Selasa, 10 April 2018

Ayumi dan Zainu (1): Misterius

Ayumi dan Zainu (1): Sosok Misterius
pujopuromo.devianart.com

(Kisah romansa masa kini)
AYUMI & ZAINU

Namaku Ayumi. Lengkapnya Ayumi Nur Aziza. Aku adalah seorang mahasiswi tingkat akhir di Universitas Al-Azhar Mesir. Ayahku bernama Salim Mansur, ia merupakan dosen di salah satu Universitas Negeri di Bandung. Dan ibuku bernama Naomi Yukizawa, ia merupakan dokter spesialis jantung yang bekerja di salah satu rumah sakit di kota Cimahi.

Aku punya seorang adik, namanya Keisuke Alghifari. Dia masih SMP dan saat ini sedang tidak ada di rumah. Keisuke tinggal di pesantren. Tapi sore ini, katanya ia akan pulang ke rumah untuk menagih oleh-oleh yang aku bawa dari Mesir.

Pagi ini cuacanya gerimis. Kota Cimahi terasa lembab. Suasananya sejuk tapi cenderung dingin. Sejak subuh hujan turun tiada henti. Membuatku gereget. Dan aku ingin menikah.

Aku sungguh menikmati suasana ini. Suasana gerimis yang memang sudah jarang aku temui sejak tinggal di Mesir.

Ini adalah hari kedua aku berada di rumah. Hampir dua tahun aku tinggal di Mesir, merantau di negeri seribu menara. Negerinya para nabi.

Saat ini suasana rumah sedang sepi. Bapak dan Bunda sudah berangkat kerja. Mereka memang orang sibuk. Di rumah, hanya tinggal aku, Teh Ani, dan Kang Yadi.

Teh Ani dan Kang Yadi adalah pasangan suami istri yang berkerja di rumah kami. Meski begitu, aku sudah menganggap keduanya sebagai kakakku sendiri.

"Neng!" terdengar suara Teh Ani yang memanggilku dari luar kamar.

"Ada apa teh?" sahutku.

"Ada telepon dari Bunda," katanya.

"Oh iya, Teh," kataku sembari bangun dari tempat tidur, "Tunggu sebentar!" lanjutku.

Ku angkat telepon tersebut. Dari Bunda. Beliau menyuruhku untuk menjemput Keisuke ke pesantren. Soalnya kata Bunda, pihak pesantren mewajibkan para santrinya agar dijemput oleh keluarga jika ingin pulang di luar jadwal libur.

Oke, aku iya-kan. Aku setujui perintah Bunda. Lagi pula, aku sudah kangen dengan Keisuke. Aku ingin segera bertemu dengannya.

Aku mengajak Teh Ani dan Kang Yadi. Mereka berdua ikut menjemput. Supirnya Kang Yadi. Ia yang mengemudikan Honda jazz di sepanjang perjalanan menuju pesantren yang lokasinya berada di daerah Cililin, Bandung Barat. Jaraknya sekitar dua jam dari rumah tempat di mana aku tinggal. Sementara aku dan Teh Ani duduk di kursi belakang sambil asik mengobrol.

Kepada Teh Ani, aku bercerita tentang kehidupanku di Kairo. Hidupku di sana cukup kerasan kataku. Masih lebih asik tinggal di Indonesia. Atau setidaknya tinggal di Kyoto Jepang, di kampung halaman Bunda. Di Kairo semua serba kurang nyaman. Apalagi setelah adanya konflik politik yang terjadi di mesir beberapa tahun terakhir.

Di Kairo, mulanya aku tinggal sendiri di sebuah flat mewah yang tak jauh dari jami'ah Al-Azhar. Namun kemudian aku merasa tidak betah tinggal sendiri. Aku hanya bertahan enam bulan tinggal di flat itu.

Kemudian aku diajak oleh tiga mahasiswi asal Indonesia. Mereka adalah Sifa, Dina dan Lia. Aku diajak oleh mereka untuk tinggal bersama di sebuah flat sederhana yang tak jauh dari tempat dimana aku tinggal sebelumnya.

Alhamdulillah, aku betah tinggal bersama mereka. Sifa, Dina dan Lia adalah orang-orang yang baik, cerdas, dan tentunya asik untuk diajak ngobrol sambil makan seblak.

Awalnya, aku mengenal Sifa, Dina, dan Lia ketika sedang berada di KBRI yang ada di Kairo. Saat itu kami sedang sama-sama mengikuti pengajian yang rutin diadakan oleh mahasiswa NU di Mesir.

Tinggal di Mesir membuatku memiliki rasa cinta tanah air yang lebih mendalam. Spirit keindonesiaan menjadi lebih terasa. Bahkan menggebu. Hanya melihat bendera merah putih yang berkibar di kantor KBRI saja, rasanya sudah sangat istimewa. Beda halnya ketika dulu waktu masih di Indonesia, melihat bendera merah putih terasa biasa saja, tidak ada rasanya.

***

Waktu berlalu. Tak terasa obrolanku dengan Teh Ani membuat perjalanan menjadi seakan pendek. Tak sadar, kini kami sudah sampai di pesantren tempat di mana Keisuke nyantri. Aku lantas bergegas bersama Teh Ani, turun dari mobil dan beranjak menuju kantor sekretariat pesantren yang tak jauh dari tempat dimana kami parkir.

Di kantor kesekretariatan itu sepi, tidak ada siapa-siapa. Emmmh? Kecuali ada seorang lelaki yang sedang sibuk menyapu lantai sambil membelakangiku. Ia nampak khusyu dengan sapu dan pengki yang ada di tangannya. Membuatku ragu untuk sekedar menyapa. Tapi, ya, tetap harus aku sapa.

“Assalamualaikum,” kataku.

Lelaki itu langsung menoleh ke arahku. Ia sesaat tertegun, tapi langsung menunjukan senyum ramah.

“Eh? Ayumi?,” katanya menyebut namaku.

Aku kaget, ia menyebut namaku. Ia mengetahui namaku. Sedangkan aku tidak merasa mengenalnya.

“Siapa ya?,” tanyaku dengan agak bingung.

Ia tidak langsung menjawab pertanyaanku. Hanya saja raut mukanya memang menunjukan bahwa sepertinya ia sudah mengenaliku.

“Ayumi kan?” ujarnya lagi.

“Iya,” kataku sambil berusaha senyum. Meski aku sendiri sebenarnya bingung. Kenapa dia bisa tahu namaku? Apa mungkin kita pernah saling kenal sebelumnya? Atau memang aku yang familiar dikenal banyak orang?

“Enggak, itu di tas ada namanya, ‘Ayumi Nur Aziza’,” katanya.

“Oh,” kataku.

Entah kenapa aku jadi salah tingkah. Kupikir, kita sudah saling mengenal sebelumnya. Ternyata, ia hanya melihat nama yang ada di tasku. Tasku memang aku kasih nama.

***

“Ada yang bisa saya bantu, Ukhti?” katanya.

“Iya Kang, saya keluarga dari salah satu santri yang mondok di sini, namanya Keisuke,” kataku. Lantas aku menjelaskan maksud dan tujuanku lebih lebar, intinya untuk menjemput Keisuke. Aku memohonkan perizinan agar Keisuke bisa tinggal di rumah selama beberapa hari.

"Keisukenya, ada?" lanjutku.

"Iya, ada. Tunggu! Aku panggilkan,” ujarnya yang kemudian berjalan keluar ruangan.

Dari balik jendela, aku memperhatikan ia berjalan menuju gedung asrama. Namun entah mimpi apa, aku lantas menyaksikan kejadian unik dan menggelikan. Aku melihat ia terpeleset saat hendak naik tangga. Sarungnya tersingkap dan menampakan bagian terlarang. Yang untungnya masih menyisakan, maaf, celana dalam. Aku langsung memalingkan muka, berbarengan dengan raut mesem menahan rasa geli. Dan, ya sudahlah, tak apa. Tak usah dipikirkan.

Tak berapa lama, Keisuke datang. Ia sendirian. Ia nampak ganteng dengan sarung dan peci hitam di kepalanya. Betapa senangnya aku. Kembali bisa melihat sosok Keisuke yang kini nampak sudah dewasa.

"Assalamualikum," kata Keisuke. Ia menghampiriku.

"Walaikumsalam," kataku sembari beranjak menyambutnya. Kemudian Keisuke menyalamiku, dan aku memeluknya.

"Ih? Kok Teteh sekarang bau ya?" kata Keisuke tiba-tiba nyeletuk setelah aku peluk.

Aku sedikit bingung. Masa iya aku bau? Perasaan, aku wangi.

“Enggak ah,” kataku sembari mencium aroma tubuhku.

“Iya,” katanya.

“Bau apa?” tanyaku.

“Bau mumi,” jawabnya.

“Maksudnya?”

“Kelamaan tinggal di Mesir, sih,” katanya.

"Yeii.. Ente juga bau kastrol," kataku.

"Biarin.. masih mending bau kastrol, dari pada mumi, bau bangkai!"

"Ih dasar, kamu juga budug!" kataku.

"Haha, bae we," katanya mengejek nakal.

"Iiiih Keisuke kok gitu?" kataku yang kemudian merengek ke arah Teh Ani. Teh Ani hanya tersenyum.

"Oh iya. Ada salam teh!" Ujar Keisuke melanjutkan.

"Dari siapa?" tanyaku penasaran.

"Fir'aun! Haha."

"Ihhhhhhh!!!!!!!" aku ketus.

"Enggak. Beneran ada salam, deh,” kata Keisuke menarik ucapan, “Dari A Jendral. Santri senior yang suka membimbing Akei main playstation di kantor kesekretariatan. Tadi dia nyuruh menyampaikan salam sama teteh," ujarnya.

Oh, mungkin si akang yang tadi pikirku. Ya sudahlah, walaikumsalam saja.

Lantas, setelah itu aku melanjutkan obrolan dengan Keisuke untuk beberapa saat. Dan kemudian mengajaknya untuk sowan ke rumah Pangersa Kiyai meminta izin.

***

Malam telah tiba. Kami sekeluarga makan malam bersama. Menunya masakan jepang. Bunda yang masak. Dibantu aku dan Teh Ani.

"Intabih Akei Chan! La tu’ajjil fil ukl!" kataku kepada Keisuke yang memang biasa dipanggil Akei Chan. Maksudnya, hati-hati jangan terburu-buru makannya.

"Mafhum.. mafhum.. (Iya ngerti)" sahut Keisuke sambil menggigit udang segar bakar. Kulihat Bunda hanya tersenyum. Bapak juga.

Aku merasa senang. Sudah lama aku tidak merasakan suasana seperti ini. Suasana rumah yang penuh dengan kehangatan. Berkumpul bersama keluarga dalam keharmonisan yang begitu kental terasa.

Selepas makan, Bapak bercerita bahwa Keisuke bulan lalu berhasil menjuarai Musabaqoh Qira'atul Kutub tingkat provinsi se-Jawa Barat. Sejenis lomba membaca dan memahami kandungan kitab kuning karya ulama-ulama klasik yang diadakan oleh Departemen Agama. Ia meraih juara satu untuk spesialisasi kitab fiqih I'anah At-tholibin karya Sayyid Al-Bakry. Luar biasa pikirku untuk ukuran anak seusianya. Walau kadang, aku berpikir dia juga agak sedikit nakal.

Di tengah perbincangan, telepon rumah berbunyi. Lantas aku beranjak untuk mengangkatnya.

"Halo? Assalamu’alaikum," terdengar salam dari seorang pria yang dari suaranya nampak seusia.

"Wa’alaikumsalam, ini siapa?" tanyaku.

"Aku spiderman," katanya.

"Hah?" aku kaget mendengar jawabannya, "Ini siapa?" lanjutku lagi.

"Yawdah, aku batman."

"Iih, maaf jangan bercanda! Mau bicara dengan siapa?" tanyaku.

"Dengan kamu," katanya.

“Hmmm.”

Aku rasa orang ini hanya orang iseng. Maklum di zaman sekarang suka banyak orang-orang yang suka iseng lewat telepon. Mungkin baiknya aku tutup saja.

"Ayumi!" katanya menyebut namaku. Aku jadi heran, kok dia tahu namaku?

"Maaf, kamu siapa?" tanyaku.

"Aku malaikat rahmat yang sedang berpatroli di langit Indonesia, Ayumi."

"Terus? Aku harus bilang ‘wow’ gitu?"

"Aku serius ih!" ucapnya.

"Tapi aku bercanda!" kataku meladeni.

"Tapi kamu gak lucu, Ayumi."

"Biarin," kataku.

"Kamu cantik" katanya tiba-tiba.

"Iyalah cantik. Masa ganteng. Aku kan perempuan," kataku membuat alasan.

"Ah basi! Alasan klasik saat seorang perempuan sedang dipuji," katanya datar.

"Heh? Yawdah jangan muji!" kataku dengan nada tinggi. Aku agak terpancing.

"Hehe.."

"Apa cengengesan?"

"Udah ah!" Ujarnya singkat.

Kemudian kudengar nada tulalit. Sambungannya ia matikan tiba-tiba. Ih menyebalkan. Astagfirulloh. Siapa dia? Membuatku menjadi sedikit tidak biasa. Membuatku agak tinggi.

"Dari siapa, Neng?" tanya Bapak.

"La adrii," kataku. Artinya, tidak tahu.

Tidak berapa lama, belum sampai dua menit, teleponnya sudah berbunyi lagi. Aneh nih orang. Mau apa sih?

"Halo! Mau apa lagi ih?" kataku agak malas.

"Assalamu’alaikum. ini Ayu?" terdengar suara yang berbeda. Sepertinya ini bukan orang yang tadi. "Aku Ihsan," lanjutnya.

"Oh Kang Ihsan. Afwan! Kirain orang yang tadi salah sambung!" kataku dengan sedikit agak malu.

"Iya. Gak apa-apa," katanya.

Kang Ihsan adalah kakak kelasku waktu SMA. Ia adalah seorang pengusaha muda. Ayahnya merupakan teman akrab ayahku. Jadi, dia sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Meski kadang, aku sering bingung dengan sikap Kang Ihsan.

"Ada keperluan apa, Kang?" aku nanya.

"Enggak. Cuma mau nelepon aja. Mmh, Ayu udah tahu kan? Nanti hari Sabtu ada reuni tiga angkatan?"

"Oh.. Iya tahu."

"Kamu harus hadir. Mumpung lagi di Indonesia."

"Iya, Kang. Insyallah."

"Tahu gak? Acara reuniannya aku yang sponsorin lho, Yu."

"Oh.. Bagus atuh, Kang."

"Dananya gede, Yu. Kalau gak ada aku, kayanya reuniannya gak akan jadi."

"Oh."

"Makanya nanti kamu harus hadir. Harus lihat muka-muka para panitia yang terbebas dari stress mikirin pendanaan!"

"Iya. Insyallah, Kang."

"Harus! Nanti kamu aku jemput. Kebetulan aku baru beli mobil baru buatan Eropa."

"Gak usah, Kang! Entar ngerepotin. Lagian Ayu mau berangkat sama Sarah dan Imas. Udah janjian."

"Idihh! Paling naik angkot kalau sama mereka itu."

"Gak apa-apa kok, Kang. Gak masalah," kataku sembari menghela nafas sejenak. "Oh iya, Kang, udah dulu ya! Ayu mau bantu Bunda nyuci piring," ucapku lagi.

"Oh.. Ya udah. Tapi jangan lupa, nanti reunian mesti hadir!"

"Iya, Kang. Terimakasih sebelumnya," kataku.

Kemudian aku metutup teleponnya setelah sebelumnya kami saling mengucapkan salam.

Kang Ihsan memang memiliki tipikal yang aneh. Dan keanehannya itu sulit aku deskripsikan. Aku sendiri sering kurang mengerti dengan tingkah Kang Ihsan. Sebenarnya Kang Ihsan orangnya baik, tapi, ya, gimana ya?

"Yang barusan siapa, Neng?" kini Bunda yang nanya.

"Kang Ihsan, Bunda," kataku.

"Oh." Bunda simpel.

***

Hari berikutnya. Di lapangan Brigif Cimahi sedang diadakan festival musik dan sekaligus pasar buku besar-besaran. Aku dan Teh Ani jalan-jalan ke sana. Tapi Teh Ani pulang duluan. Ia disuruh Bunda untuk membantu mempersiapkan acara arisan ibu-ibu nanti sore.

Di sana, aku mampir ke salah satu kios buku. Aku menemukan sebuah novel yang judulnya cukup unik, “Front Pembela CInta”. Kata penjualnya, novel ini merupakan cerita fiksi romantis yang dikemas dalam balutan tawa. Di dalamnya, dikisahkan seorang pemuda yang mencintai seorang gadis. Aku dianjurkan untuk membaca ceritanya, katanya.

Dari cover bukunya tertulis, “Hanya ada satu cara untuk mencintai dan dicintai. Ya, mari tertawa!”

Mmhhh, agak nyeleneh. Kenapa bisa? Apa hubungannya mencintai dengan tertawa? Apa pula hubungan dicintai dengan tertawa? Bukankah kebanyakan tertawa, atau tertawa tanpa sebab justru merupakan tanda-tanda orang sakit jiwa?

Ya sudah, aku beli, satu. Untuk menghilangkan rasa penasaran. Mungkin bisa aku baca untuk mengisi waktu luang.

Di kios lain, aku membeli tafsir Al-Munir, atau tafsir Marah Labid karya Syeikh Nawawi Al-Bantani. Ya, untuk menambah beberapa referensi tafsir yang sudah aku miliki. Di Mesir, tafsir ini cukup susah aku cari. Atau mungkin aku yang malas mencari. Pedahal sudah lama aku ingin mendapatkannya. Tafsir karya ulama besar asal Indonesia yang hijrah ke mekah dan menetap di sana, kemudian mengajar di masjidil haram. Saat umroh beberapa tahun lalu, aku sempat berziarah ke makam beliau yang berada di Ma'la.

Selesai belanja buku, aku langsung pulang. Naik angkot. Agak gerah. Supirnya geje. ngetemnya lama banget. Pedahal dari Brigif menuju rumah jaraknya masih jauh. Kalau ditambah dengan ngetem bisa menghabiskan banyak waktu.

Sampai di rumah, aku langsung mandi untuk menyegarkan badan yang terasa lengket akibat banjir keringat. Lantas aku bergegas menunaikan shalat dzuhur. kemudian rebahan di kasur sembari mendengarkan shalawat yang aku putar dari hape kecilku.

Mataku berlinang. Lirik-lirik shalawatnya mengantarkanku pada kerinduan yang sangat menggebu. Aku rindu Rasulullah. Rindu sosok idaman. Sungguh!

Aku kangen ih. Aku ingin menikah. Eh? Entahlah. Aku tidak tahu dengan apa yang ada dalam pikiranku. Setiap kali mendengar nama Rasulullah hatiku selalu terenyuh, dan membuatku ingin segera menikah. Emmmh? Mungkin ini terdengar aneh. Tapi aku memag merasakan demikian.

Tiba-tiba suara shalawatnya berhenti, berganti dengan nada panggilan masuk. Ada yang menghubungi.

"Halo, assalamu’alaikum?" kataku.

"Wa’alaikum­-sayang-warohmatullohi wabarokatuh," katanya.

"Ih! kok gitu? Ini siapa?" tanyaku.

"Spiderman," ujarnya.

Spiderman? Aku jadi teringat penelepon tadi malam. Nampaknya orang yang sama.

"Kok? kamu tahu nomor hapeku?"

"Iya, tadi dikasih tahu Barrack Obama."

"Lho? kok bisa?"

"Ya bisalah. Kan aku lagi berbohong."

"Ih aku serius! Kamu siapa?"

"Yawdah, aku Batman."

"Nyebelin ih!" kataku.

"Tapi kamu suka kan?" katanya.

"Enggak!"

"Kamu suka makan rumput ya?"

"Enggak!"

"Kamu suka membajak sawah ya?"

"Enggak!"

"Kentut kamu bau ya?"

"Enggak!"

"Terus? kentut kamu wangi? gitu?"

"I.. iya.." kataku agak ragu.

"Haha.." Ia terdengar tertawa.

"Hehe," aku pun jadi ikut tertawa. Keceplosan.

***

“Aku suka mendengar kamu tertawa,” ujarnya.

“Kenapa?” aku nanya.

“Aromanya wangi.”

“Iya gitu? Emang nyampe aromanya?” aku nanya lagi.

“Iyalah! Aku kan punya insting yang kuat,” katanya.

“Aku gak percaya,” ujarku.

“Beneran! Kamu harus percaya,” tandasnya seperti sedang meyakinkan, “Malah aku bisa tahu, bulu hidung kamu gondrong, kan?” ujarnya lagi.

“Ih! Enggak,” tampikku.

“Oh. Berarti aku salah.”

***

"Kamu siapa ih?" Aku nanya lagi.

"Siapa ya?” Ujarnya seperti sedang bertanya pada diri sendiri. “Jujur, sebenarnya aku adalah seorang pujangga yang tak berpuisi. Aku adalah melodi yang tak berirama. Aku adalah debu liar yang terhempas angin tiada arah. Ludahi saja aku bila najis mugoladzoh bagimu. Tampar saja aku bila merisih luka hatimu."

"Hmm," aku bingung harus merespon apa dengan kata-katanya.

Kemudian kudengar dia melanjutkan kata-katanya lagi. Eh, bukan! Ternyata dia membacakan sesuatu yang sepertinya aku kenal. Itu surat Ar-Rahman. Ia membacakannya dengan murottal.

Kudengarkan suaranya dengan seksama. Namun lama-lama, aku malah meresap dalam, seolah terhipnotis oleh alunan qira'atnya yang indah. Aku tak menyangka suaranya begitu indah, fasih, juga merdu. Siapa dia?

Entah mengapa tiba-tiba mataku berlinang. Hatiku berdesir. Tubuhku merinding saat mendengarkan qira’atnya. Apalagi, aku adalah tipe orang yang sangat peka dan perasa. Kemampuanku dalam berbahasa arab membuatku jadi mengerti arti dan makna dari setiap ayat yang dia bacakan. Mengantarkan aku pada penghayatan yang begitu dalam.

Sesekali aku mendengar deru nafasnya, begitupun dengan batuknya. Mungkin dia sedang terkena flu.

"Maha benar Allah dengan segala firmannya," ujarnya kemudian. Dan tak berapa lama, terdengar suara tulalit, sambungannya ia akhiri tanpa permisi.

Air mataku terasa mengalir di pipiku. Aku mengusapnya sembari mengambil nafas panjang. Melegakan suasana yang barusan terasa membuatku menjadi sedikit melankolis.

Ih Spiderman! Siapa dia? Menjengkelkan! Tapi juga membuatku menjadi penasaran. Sekilas aku dibawanya tertawa, kemudian cemberut, kemudian melankolis.

Tapi sekarang bukan waktunya untuk memikirkan orang yang tidak jelas seperti dia. Aku merasa lelah, ngantuk. Aku ingin tidur. Kupejamkan kedua mataku. Gelap.
KLIK LANJUT KE PART 2
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
Ini halaman terdahulu
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
Ini halaman terdahulu
 

Masukan email Anda di bawah ini