Kamis, 12 April 2018

Ayumi dan Zainu (10): Menghubungi Umi

Ayumi dan Zainu (10): Menghubungi Umi

Aku ambil hape-ku. Hape yang warnanya putih namun dibungkus dalam cover berwarna merah muda. Aku sentuh layarnya untuk sekedar memunculkan menu di kontak. Lantas aku tempelakan ke telinga. Telinga yang kata bunda bentuknya kecil meruncing.

Terdengar sayup-sayup sambungan mengalun. Nada tunggu. Aku hela nafasku. Nafas seorang gadis sunda keturunan jepang.

“Hallo, Assalamualaikum,” kataku.

“Iya, walaikumsalam. Ada apa Ayumi?” ia nanya.

Terdengar suara Kang Zainu. Suara yang kini bisa aku kenali.

“Ini Ayumi, kan?” kata Kang Zainu lagi.

“Iya,” kataku.

“O.. Kirain,” katanya singkat.

“Kirain apa?” tanyaku.

Suasana hening sejenak. Kang Zainu tak terdengar suaranya.

“Enggak kok. Ada apa?” Tanya Kang Zainu.

“Spidermannya ada?” tanyaku dengan suara pelan.

“Haha,” Kang Zainu tertawa.

“Hehe.”

**

“Kang, makasih ya,” kataku.

“Untuk apa?” tanyanya.

“Untuk jamuan kemarin,” kataku.

“Emang apa?” ia nanya lagi.

“Ya pokoknya terima kasih Akang dan keluarga sudah bersedia meluangkan waktu untuk menerima kedatangan kami.”

“Oh..” katanya.

Aku terdiam setelah hanya mendapat respon “oh” dari Kang Zainu.

“Kok diem?” tanya Kang Zainu.

“Bingung,” jawabku.

“Kok bingung?” tanyanya lagi.

“Ya bingung,” jawabku lagi.

Suasana kembali hening sejenak. Aku kesulitan untuk membuat satu obrolan yang baik.

“Ayu lagi apa sekarang?” tanya Kang Zainu.

“Lagi nelpon,” jawabku.

“O..” ujarnya.

“Iya,” kataku.

“Emang lagi nelpon siapa?” tanya Kang Zainu.

“Seseorang,” jawabku.

“Pacar ya?” tanya Kang Zainu.

“E? Bukan,” kataku, “Tukang baso tahu.”

“O, jadi pacar Ayu sekarang tukang baso tahu?”

“Bukan,” kataku, “Tukang baso tahu itu Akang. Hehe.”

“O, Akang tukang baso tahu yang jadi pacarnya Ayumi” katanya.

***

“Nitip kambing ya, Kang,” kataku.

“Maksudnya?” ia nanya..

“Iya. Wibowo dan Anggun. Nitip!”

“Maksudnya?” ia nanya lagi.

“Nitip, jangan sampai merepotkan Abi dan Umi. Jangan sampai Abi dan Umi mencari rumput untuk pakan Wibowo dan Anggun.”

“Maksudnya?”

“Ih? Terus aja ‘maksudnya? maksudnya?’ Nyebelin!” kataku.

“Haha. Maksudnya, kalau jangan Abi dan Umi lantas oleh siapa?” tanyanya.

“Ya Kakang atuh! Masa Abi dan Umi harus nyari rumput. Kasihan!”

“Biarin.”

“Akang ih?!”

“Apa?”

“Jangan ngerepotin Abi dan Umi!”

“Emang siapa yang ngerepotin Abi dan Umi?”

“Akang!”

“Lho? Bukannya Ayumi dan Keisuke yang ngerepotin? Bukankah itu kambingnya Akei,” ujar Kang Zainu.

“Eumhh..” Aku terpojok.

Kalau sedang seperti ini, aku merasa, ah. Sepertinya Kang Zainu memang menyebalkan. Apa ia tidak berfikir, meski kambing yang dipelihara oleh Abi dan Umi itu adalah kambing milik Keisuke, tapi masa iya Abi dan Umi yang harus mengurusi pakan kambing-kambing itu. Mereka kan orang tua. Jangan dibuat repot. Jangan dibuat capek dengan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh anak muda.

“Aku ingin bicara dengan Abi dan Umi!” kataku dengan nada serius.

“Abi gak ada. Lagi di madrasah, ngawuruk ngaji.”

“Ya Umi!” kataku.

Sejenak obrolan terhenti. Suasana agak hening. Tapi tidak berlangsung lama.

“Tunggu!” katanya.

Lantas aku menunggu beberapa saat. Terdengar suara keukeureuseukan untuk beberapa saat.

“Umi nuju naon?”[1] kata kang Zainu yang terdengar samar-samar. Mungkin ia sedang bertanya pada Umi. Namun suaranya tidak begitu jelas.

“Nyeupan daun sampeu..”[2] jawab seseorang. Itu suara Umi. Suaranya terdengar khas.

“Punten A, pang kadieuken cucutik!”[3] kata Umi lagi pada Kang Zainu.

Aku tersenyum mendengar obrolan mereka dari balik sambungan.

“Umi! Ini ada tukang baso tahu nelpon. Katanya ingin ngobrol dengan Umi!” ujar Kang Zainu.

“Hah?” Umi terdengar kaget.

Aku manyun. Kok tukang baso tahu? Maksudnya Kang Zainu?

“Umi bicara dulu, gak apa-apa kok!” kata Kang Zainu lagi.

“Alim ah!”[4] kata Umi.

“Gak apa-apa kok! Gak akan gigit! Tukang baso tahunya perempuan, Umi! Dia cantik dan baik. Beneran!”

“Aa mah aya-aya wae![5] Lagian mau apa tukang baso tahu ngobrol sama Umi?”

“Kan tukang baso tahunya spesial. Calon istri aa, Umi!”

“Iya gitu?”

Dahiku mengkerut mendengar ucapan Kang Zainu. Aku tidak terima. Namun bibirku jadi mesem.

“Hallo, Assalamualaikum?” kata Umi dari balik hape.

Suara Umi nampak teduh. Namun terdengar agak serius. Mungkin ia mengira-ngira siapa yang sedang diajaknya bicara ini.

“Wa‘alaikumsalam warahmatulloh! Umi! Ini Ayu. Ini Ayumi Nur Aziza, putri Bapak Salim Mansur, kakaknya Keisuke,” kataku menyergap dan langsung menjelaskan.

“Ini Neng Ayu?”

“Iya, Umi! Ini Ayu..”

“Ih si Aa mah! Masa gadis cantik dan baik seperti ini dibilang tukang baso tahu?”

“Iya, Umiii..” kataku langsung menyergap dengan nada agak manja.

“Nanti Umi jewer si aa nya...” Kata Umi.

“Jangan!”

“Kenapa?”

“Kasihan..”

“Gak apa-apa. Si Aa kan memang salah?”

“Tapi jangan dijewer. Gak tega..” kataku dengan suara manja.

Umi terdengar bergumam. Entah untuk apa. Mungkin karena mendengar kemanjaanku padanya. Aku memang seperti ini. Suka manja pada seseorang yang sudah aku anggap dekat. Dengan orang-orang yang membuatku merasa nyaman dan merasa tenang dengan kehadirannya.

Termasuk Umi. Ia adalah orang yang membuatku merasa nyaman, membuatku merasa dekat. Membuatku merasa seolah-olah ia adalah ibu kedua bagiku. Ibu yang baik sebagaimana Bundaku. Namun, bedanya, bunda adalah tipikal wanita karir. Ia dibesarkan di Jepang. Mengenyam pendidikan di sana. Dan hidup sebagai gadis Jepang pada umumnya.

Bundaku, ia adalah seorang muallaf. Karena sebelumnya, beliau memiliki keyakinan sebagaimana keyakinan orang-orang jepang pada umumnya. Namun Bunda memilih menjadi seorang muslimah setelah pertemuannya dengan Bapak di Fukushima dulu. Pertemuan yang membuatnya tersentuh. Itu yang diceritakan Bunda.

“Umi..!” kataku, “Ayu kangen,” kataku lagi.

“Eummh.. Umi juga kangen. Kapan atuh mau main ke rumah Umi lagi?”

“Sekarang,” kataku.

“Hah? Sekarang? Nu leres?”

“Hehe, Enggak. Bohong. Nanti insyallah..”

“Iya, pokoknya Umi tunggu!” balas Umi.

“Umi..!” kataku lagi.

“Apa?” kata Umi.

“Wibowo dan Anggun siapa yang ngasih makan?”

“Eumh? Siapa?” tanya Umi dengan keheranan.

“Wibowo dan Anggun,” kataku menegaskan.

“Siapa Wibowo dan Anggun?”

Aku berpikir sejenak. Oh iya Bunda, eh? maksudku Umi, ia pasti belum tahu siapa itu Wibowo dan Anggun. Lagi pula Wibowo dan Anggun itu hanya nama panggilan untuk hewan peliharaan. Dan yang tahu nama kkedua kambing itu hanya aku, Keisuke dan Kang Zainu.

“Emh, itu Umi. Dua kambing milik Keisuke.”

“Maksudnya?”

“Iya, jadi dua kambing itu diberi nama. Ada yang namanya Anggun, ada yang namanya Wibowo,” kataku menjelaskan.

“Hah? Masa kambingnya dikasih nama?”

“Iya, Umi. Hehe.”

“Eumh kalian ini, kok kambing dikasih nama?”

“Buat lucu-lucuan aja, Umi.”

***

“Kambing-kambing disini sudah ada yang ngurus kok, Neng,” kata Umi.

“Siapa?” Tanyaku.

“Disini kan banyak santri. Mereka bagi-bagi tugas untuk mengerjakan berbagai aktivitas di pesantren. Termasuk mengurus hewan-hewan ternak. Jadi Neng tidak perlu khawatir!” ujar Umi.

“Oh..” kataku singkat.

Aku jadi lega. Tadinya aku berpikir bahwa kambing-kambing itu diurus langsung oleh Abi dan Umi. Soalnya waktu ke sana, aku melihat Abi memang sangat hobi berkebun dan mengurus binatang-binatang ternak.

“Umi, ari ieu cengekna bade direkuh?”[6] Terdengar suara Kang Zainu samar-samar bertanya pada Umi.

“Muhun A! Tapi eta teh teu acan diterasian. Sakantenan!”[7] kata Umi.

Kurasa Kang Zainu sedang membantu Umi membuat sambal.

“Umi..” kataku.

“Iya?” kata Umi.

“Kang Zainu baik ya!” kataku.

“Lho? Kok Neng Ayu bilang gitu?”

“Eh, enggak,” kataku.

Aku jadi merasa, ah.Kenapa pula aku bilang seperti itu pada Umi. Membuatku bermasalah dengan batinku saja.

“Eumh.. Umi jadi curiga,” kata Umi.

“Curiga apa? Hehe,” tanyaku.

“Mungkin benar kata Keisuke,” ujar Umi.

“Emang Keisuke bilang apa?” tanyaku mendadak penasaran.

Tiba-tiba sambungannya mati. Pulsaku habis. Ya sudah. ***
_____________
[1] Umi sedang apa?
[2] Merebus daun singkong,
[3] Tolong A, ambilkan spatula!
[4] Enggak ah!
[5] Aa ada-ada saja!
[6] Umi, cabe rawitnya mau diulek?
[7] Iya. Tapi itu belum dikasih terasi. Sekalian aja!
KLIK LANJUT KE PART 11
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
 

Masukan email Anda di bawah ini