Minggu, 15 April 2018

Ayumi dan Zainu (11): Mengenang Masa SMA

Ayumi dan Zainu (11): Mengenang Masa SMA

Besok adalah acara reuni SMA. Acara yang melibatkan tiga angkatan. Aku berada di angkatan yang paling muda.

Sekolahku dulu di SMA Negeri 5. Sekolah yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya perlu dua kali naik angkot. Itu pun karena ada belokan yang nanggung, yang membuatku harus berganti angkot. Pedahal kalau mau jalan kaki, masih bisa. Tapi harus lewat jalan pintas. Sekitar lima belas menit kalau jalan kaki.

Aku kangen masa-masa SMA. Masa-masa di mana aku mendapatkan banyak kenangan. Masa-masa di mana aku memiliki banyak teman. Baik teman satu sekolah maupun teman di luar sekolah. Bahkan waktu SMA aku memiliki sebuah geng. Semacam teman-teman ngumpul dan nongkrong. Kalau ada sesuatu, kita sering berbagi bersama.

Nama geng tersebut biasa dipanggil “komplotan aromanis”. Isinya ada aku, Anisa, imas, Sarah dan Ima.

Dari namanya memang terkesan aneh, “komplotan aromanis”. Tapi memang seperti itu adanya. Kalau aku ingat sekarang, rasanya nama tersebut terlalu lebay. Aku merasa malu sendiri bila mengingatnya sekarang. Tapi nama tersebut sebenarnya bukan nama yang kami buat.

Nama itu awalnya hanya panggilan dari anak-anak pria gara-gara kami sering ngumpul bareng. Ke mana-mana selalu berkomplot. Hingga kemudian mereka menyebut kami komplotan aromanis. Katanya sih, karena kami sering berkomplot, tapi nampak manis. Awalnya, kami risih. Tapi lambat laun jadi kebiasan. Jadi terbiasa. Akhirnya kami pun seolah mengiyakan. Seolah ridho dipanggil demikian.

Dulu waktu SMA aku pernah mengalami hal tidak menyenangkan. Pernah suatu ketika aku didatangi oleh anak-anak pria dari kelas IPS. Kalau tidak salah dari kelas IPS 4. Mereka datang beramai-ramai ke kelasku. Awalnya aku tidak mengerti maksud kedatangan mereka.

Tapi kemudian aku tahu, ada salah seorang di antara mereka yang mau menyatakan cinta padaku. Atau anak remaja saat itu menyebutnya dengan istilah “nembak”.

Orang itu adalah Anjar. Siswa yang dikenal nakal di sekolah. Ia sering bermasalah dengan BP. Bahkan menurut sebagian teman, anjar sering ikut tawuran di luar sekolah. Ia pun memiliki nama panggilan yang aneh. Teman-temannya biasa memanggilnya dengan sebutan “rawing”, atau kadang dipanggil juaga “panglima tempur”.

Bagiku, saat itu adalah hal yang sangat tidak menyenangkan. Membuatku merasa menjadi manusia yang dipenuhi rasa bingung dan cemas. Aku dihadapkan pada pilihan yang tidak nyaman. Pada pilihan yang sulit untuk aku ungkapkan.

Aku tidak menyukai Anjar.

Pada dasarnya, aku memang menghargai siapa pun yang menaruh rasa suka padaku. Bagiku, itu adalah anugerah dari Allah. Tapi bukan berarti aku harus menyambut setiap orang yang menyukaiku. Apalagi harus sampai pacaran. Bagiku itu tidak mudah. Aku memiliki prinsip untuk tidak berpacaran. Sudah banyak pria yang menyatakan perasaannya padaku dan mengajakku untuk jadian, tapi aku sangat menyesal karena aku sangat tidak bisa mengabulkannya.

Pernyataaan cinta dari Anjar adalah sesuatu yang sulit. Ia bukan orang yang bisa diajak kompromi. Jika aku menolaknya itu berarti aku akan bermasalah dengannya. Apalagi jika aku menolaknya di depan umum.

Kala itu Anjar memberikan pilihan padaku. Jika aku mau menerimanya, maka aku harus mengambil bunga yang ada di tangan kanannya. Sedangkan jika aku menolak, ia malah bilang itu mustahil. Seperti memaksakan.

Aku merasa bingung, atau lebih tepatnya takut. Aku hanya bisa diam tidak bisa menanggapi apapun. Aku diam. Hingga Anjar yang kala itu terus mendesakku kesal.

“Ayo dong! Jawab!” Ujarnya kala itu dengan nada agak tinggi.

Ia memaksaku untuk memberikan jawaban yang aku sendiri bingung. Aku hanya diam dan tidak bisa menjawab. Yang jelas, aku tidak suka Anjar. Tapi aku bingung cara menolaknya.

Aku perlahan nangis. Anjar kala itu tidak memperdulikan tangisanku. Ia seperti tidak faham. Seharusnya ia mengerti. Bahkan, kawan-kawannya yang kala itu ikut menyaksikan malah meyerukan, “Terima! Terima! Terima!” Pedahal tangisanku harusnya sudah cukup membuat mereka mengerti.

Saking kesalnya, kala itu Anjar melempar bunga yang ada di tangannya. Ia langsung merapat, dan lantas menyentuh pipiku. Sontak aku memalingkan wajahku. Aku tidak ingin dia menyentuh wajahku. Namun ia memaksa dan memegang tanganku dengan erat. Aku berusaha melepaskannya. Tapi aku tidak bisa.

Ia memegang tanganku kuat. Mendekatkan wajahnya ke arahku. Seperti hendak mencium. Aku berusaha menghindar. Aku mundur. Namun ia terus mepet ke arah wajahku. Hingga kemudian aku mati langkah dan tidak bisa lagi menghindarkan diri.

Saat itu aku benar-benar terdesak. Aku tidak tahu harus bagaimana. Wajah Anjar semakin merapat ke arahku. Aku mulai merasakan hembus nafasnya menerpa wajahku.

Ketika wajahnya sudah semakin dekat, ada sebuah tarikan yang membuat Anjar terpelanting lantas terjatuh. Dan ternyata itu adalah tarikan dari Anisa. Ia datang di saat yang tepat.

“Apa-apaan ini?” kata Anisa membentak kala itu.

Anisa adalah gadis pemberani. Di antara teman-teman yang lain, dia memang yang paling berani. Apalagi, ia merupakan anak kepala sekolah. Tak heran jika ia sangat disegani oleh siswa yang lain. Mungkin itu pula yang akan membuat Anjar tidak berani macam-macam dengan Anisa.

“Pergi!” kata Anisa lagi.

Saat itu Anisa melotot kepada Anjar dengan penuh emosi. Wajahnya merah menyala. Nafasnya tersengal. Ia terlihat sangat marah. Baru pertama aku melihat Anisa dengan ekspresi kemarahan seperti itu.

Anjar dan kawan-kawannya hanya terdiam. Mereka nampak kebingungan dengan kedatangan Anisa.

“Pergiiiiiiiiiii!!!” kata Anisa lagi sambil berteriak.

Seketika itu pula, Anjar dan kawan-kawannya berlalu. Mereka pergi meninggalkan kelas dengan wajah ketus dan nampak kesal. Mereka nampak tidak puas.

Imas dan Ima lantas menghampiriku. Mereka memelukku dan menyeka air mataku. Sedangkan Sarah, ia terlihat menenangkan Anisa yang masih emosi. Dan itu adalah sebuah momen dimana aku benar-benar merasa tertolong.

***

“Neng!” Bapak memanggil.

“Iya,” sahutku.

“Ada telepon.”

“Iya tunggu sebentar!” kataku yang kemudian beranjak keluar kamar.

“Dari siapa, Pak?” aku nanya kepada Bapak yang masih berada di depan pintu kamar.

“Ihsan,” jawab Bapak singkat.

Kemudian aku langsung menuju ketempat dimana telepon rumah ditaruh.

“Halo, Assalamu’alaikum?” kataku mengucap salam.

“Wa’alaikumsalam, Ayumi,” balasnya.

“Kang Ihsan? Ada apa?” tanyaku.

“Gak ada apa-apa. Cuma ingin memastikan aja. Besok kamu datang kan?” lanjutnya lagi.

“Iya, Insyaallah datang.”

“Ya harus! Pokoknya besok kamu harus datang! Aku kangen kamu. Sudah lama kita tidak bertemu.”

“Iya, Insyallah besok datang.”

“Mau aku dijemput?”

“Gak usah, Kang!”

“Owh! Mau berangkat dengan Sarah dan Imas ya?”

“Iya.”

“Besok, sebelum berangkat jangan lupa sarapan ya!”

“Iya.”

“Tapi, sarapannya jangan terlalu banyak! Soalnya besok sudah disediakan makanan yang enak-enak. Jadi nanti kamu makannya di tempat reuni aja!”

“Iya.”

“Besok, aku mau ngasih kejutan sama kamu.”

“E?”

“Iya. Besok aku mau ngasih kejutan sama kamu.”

“Kejutan apa?”

“Ah! Kalau dikasih tahu bukan kejutan namanya.”

“Eumh? Apa gak kebalik, Kang? Kenapa pula Akang bilang mau ngasih kejutan? Kan jadi bukan kejutan kalau sudah bilang dari sekarang.”

“Eumh, Akang belum bilang kejutannya apa kok.”

“Iya. Tak apa.”

“Sekarang, Ayu lagi apa?”

“Lagi nelpon..”

“Maksudnya sebelum ditelepon, Ayu lagi apa?”

“Lagi tiduran aja sambil dengerin sholawatan.”

“Oh.. Sama dong!”

“Wah? Beneran? Serius?”

“Hehe, enggak sih. Bohong.”

“Ih,” kataku dengan nada kecewa. “Eh, Kang, Udah dulu ya! Ayu masih ada urusan. Lain kali dilanjut lagi.”

“Mmmh. Yawdah.. Tapi besok hadir ya?”

“Iya. Insyallah,” kataku, “Assalamualaikum,” lanjutku.

Kemudian aku menutup teleponnya. Aku manyun. Entahlah. Mungkin kurang mood.

“Kenapa? Kok manyun?” tanya Bapak ketika aku sedang berjalan menuju kamar.

“Kang Ihsan,” jawabku.

“Kenapa kang Ihsan?” tanya Bapak. “Nyebelin ya?” lanjutnya.

“Gak tahu,” jawabku.

“Lho? Kok gitu? Kang Ihsan kan orangnya baik. Cocok kalau jadi suami kamu.”

“E?” Aku kaget mendengar ucapan Bapak. “Ayu gak mau,” kataku spontan.

Bapak senyum. Kemudian ia menghampiriku. Lantas mencubit hidungku.

“Kenapa gak mau? Kang Ihsan kan baik?”

“Gak mau..” kataku merengek sama Bapak.

“Lantas? Kalau gak mau dengan Kang Ihsan, maunya dengan siapa? Hayooh?” tanya bapak lagi.

Suasana menjadi hening. Aku diam dan tidak bisa bicara apa-apa. Aku bingung harus menjawab apa.

“Kamu sudah besar, Ayumi. Sudah cukup untuk menikah. Sudah waktunya kamu memberi Bapak dan Bunda seorang cucu,” ujar Bapak.

Aku mengerti dengan apa yang Bapak ucapkan. Aku tahu, aku sudah dewasa. Tanpa bapak ingatkan pun aku sudah cukup faham. Aku memang gadis dewasa yang sudah cukup untuk menikah. Sudah cukup untuk membina rumah tangga, memiliki suami, lantas memiliki anak. Namun siapa yang kelak akan menjadi suamiku, itu masih merupakan rahasia Tuhan. Aku tidak tahu dan aku tidak memiliki kuasa untuk itu. Jodoh ada ditangan Tuhan. Aku hanya bisa berikhiar. Berusaha mempercantik diri. Berusaha memperbaiki diri.

Saat ini, memang ada beberapa laki-laki yang mendekatiku. Bahkan diantara mereka sudah ada yang mengutarakan niatnya secara jelas kepadaku. Dan aku bersyukur ketika mereka telah memilihku. Namun, sayangnya aku tidak faham bagaimana caraku untuk menentukan pilihan.

Yang kutahu, dulu Gus Usman adalah lelaki pertama yang pernah membuatku merasa suka. Dan ia pula lelaki pertama yang membuatku untuk mulai membuka hati.

Sayangnya ia tak pernah mengungkapkannya padaku. Dan bagiku, itu merupakan sesuatu yang rumit. Karena menurutku, dalam masalah cinta, adanya wanita memang untuk dipilih. Dan ketika Gus Usman tidak pernah menyatakan cintanya kepadaku, itu berarti dia belum memilihku. Karena aku beranggapan, untuk mendapatkan sosok istri, seorang lelaki memang harus memilih. Walau akhirnya, wanita yang menentukan.

Kulihat Bapak tersenyum padaku. Kemudian ia mengusap kepalaku. Ia seolah mengerti apa yang aku pikirkan. Dan aku hanya bisa menatapnya dengan rasa malu tanpa bisa berkata apapun lagi.

Lantas, aku beranjak meninggalkan Bapak. Pergi ke kamar dengan suasana hati yang penuh dilema. Penuh dengan pertanyaan yang masih menggantung jawabannya. Tentang siapa calon suamiku kelak? Siapa yang akan menjadi imamku kelak? Dan kurasa ini adalah pertanyaan yang suatu saat nanti pasti akan aku jawab. Tapi bukan sekarang.

ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
 

Masukan email Anda di bawah ini