Ayumi dan Zainu (12): Reunian

Ayumi dan Zainu (12): Reunian

Hari ini adalah hari Minggu. Masih pagi dan cuacanya cukup cerah. Aku suka dengan cuaca seperti ini. Membuatku bersemangat untuk melaksanakan berbagai aktifitas. Membuatku bergairah untuk melaksanakan berbagai pekerjaan.

Apalagi angkot yang aku tumpangi melaju dengan lancar. Menyusuri jalan lebar sepanjang Kota Cimahi. Tidak ada kemacetan yang aku temui. Semua terasa tertib dan nyaman. Beda dengan dulu, saat aku masih duduk di bangku sekolah, angkotnya selalu terjebak macet.

Dulu, di daerah yang aku lalui ini, di sekitaran jalan Gandawijaya, banyak sekali pedagang kaki lima yang ramai berjualan. Banyak di antaranya yang berjualan sampai ke badan jalan dan sering membuat kemacetan. Tapi sekarang semua sudah nampak berbeda. Sepertinya para pedagang kaki lima tersebut sudah direlokasi. Dan jalanan pun kini terasa lenggang.

Saat ini aku sudah sampai di masjid Agung Cimahi. Selepas turun dari angkot, mataku langsung melirik ke berbagai arah. Berusaha menemukan Sarah dan Imas yang katanya sudah sampai terlebih dulu. Kita memang sudah janjian disini. Di tempat yang sering kita jadikan tongkrongan sore saat masih sekolah dulu. Ya, kita memang sering nongkrong di sini. Di taman dan pelataran yang ada di depan mesjid.

“Aku sudah sampai di Mesjid Agung. Kalian dimana?” kataku melalui hape.

“Coba lihat kesamping! Kita di mushola!” balas Sarah.

Lantas aku menengok ke sebelah kanan, memusatkan pandangan ke arah mushola. Dan kulihat ada seorang perempuan cantik memakai kerudung berwarna coklat, ia sedang duduk sambil melambaikan tangan. Aku langsung tersenyum. Ya, itu Sarah. Sahabatku yang sudah jadi ibu. Dan di sampingnya, nampak ada seorang gadis yang masih tomboy. Ia mengenakan jaket jeans dengan bawahan celana jasmin. Ya, dia Imas. Keduanya adalah sahabatku yang aku kangeni.

Aku segera menuju ke arah mereka. Tentunya dengan nuansa bahagia. Senyumanku kupasang lebar. Mataku berbinar. Aku merasa seperti sedang dirasuki malaikat rahmat yang membabi-buta memberikan kasih sayangnya. Membuatku mendayu-dayu dalam nostalgia ini. Pertemuan di antara sahabat yang sudah lama tak bertemu. Dan tentunya dipenuhi dengan dahaga rindu.

Kulihat mereka nampak berdiri, menyambutku seolah ingin meraih kerinduanku. Dan kulihat senyum mereka landai. Senyuman hangat yang masih sama seperti dulu.

“Assalamualaikum!” kataku sambil merangkul mereka.

“Walaikumsalam.. Duh, Mahasiswi Al-Azhar,” balas Imas dengan suara rindu.

Kami saling berpelukan. Meluapkan rasa rindu menggebu. Entah mengapa, aku sangat haru.

“Maaf aku telat!” kataku.

“Gak apa-apa! Lagian kamu sudah biasa telat kok.. Kebiasaan!” timpa Sarah sambil mencubit pipiku.

“Hehe,” aku senyum.

Kuperhatikan dari segi fisik, keduanya sudah nampak banyak berubah. Ya! Sarah kini ia nampak keibuan, terlihat semakin dewasa. Mungkin karena ia memang sudah menikah dan memiliki anak. Sedangkan Imas, ia nampak lebih fresh dan agak feminim, meskipun aura tomboinya masih lebih kuat. Tidak secuek dulu.

“Eh, gimana kabarnya? Kok agak kurusan?” tanya Sarah padaku.

“Alhamdulillah sehat, dan masih tetap jomblo,” kataku bercanda.

“Haha,” Sarah dan Imas nampak tertawa.

"Oh masih jomblo ya? Duhhh! Kapan mau nyusul? Dari zaman SMA kok masih jomblo aja,” kata Sarah yang memang sudah berkeluarga.

“Hehe, Caariin dong!” kataku manja dengan bibir yang agak dimanyunkan.

Aku memang agak manja kalau sedang ngobrol dengan teman. Agak lebai. Atau mungkin memang lebai beneran? Entahlah, aku memang suka manja kalau sudah berkumpul dengan teman-temanku ini. Suasana hati terasa bebas. Terasa nyaman dan tidak ada beban yang membuatku harus terkesan formal dan kaku.

***

“Mmmh, jadi? Kapan kita berangkat ke tempat Reuninya?” Imas nanya ditengah perbincangan.

“Masih pagi keles. Paling di sana pun belum ada siapa-siapa,” kata Sarah.

“Iya, mending kita ngobrol aja dulu. Nyantai kaya di pantai,” kataku.

Kemudian kita langsung menuju ke warung yang ada di sebrang jalan. Warung yang lokasinya tak jauh dari masjid. Warung sederhana milik Bu Yanti. Warung yang dulu sering kita jadikan tempat ngumpul kalau sedang ingin jajan kurupuk banjur.

Kita duduk-duduk di depan warung. Ngobrol-ngobrol dengan Bu Yanti yang memang sudah cukup akrab dengan kami. Bu Yanti orangnya baik. Ia ramah dan bersahaja. Kami sudah menganggapnya sebagai orang tua kami sendiri. Dulu kami sering liliwetan di rumah Bu Yanti. Ya, mungkin karena saking dekatnya.

“Eh, itu?” kataku kaget ketika melihat sebuah buku yang terselip di tas Imas.

“Hmm?” Imas nampak bingung.

“Itu! Buku karya pujangga yang tak berpuisi!” kataku, “Itu yang itu! Buku itu!” kataku sambil menunjuk bukunya Imas.

“Yang ini?” tanya Imas.

“Iya,” jawabku.

“Haha. Kok kamu tahu? Pernah baca?”

“Iya, pernah,” kataku.

Itu adalah buku yang sama persis dengan buku yang pernah aku beli dari Brigif seminggu lalu. Sebuah buku unik dengan judul “Front Pembela Cinta”. Buku karya seorang penulis yang bernama Zain Asakir. Seorang penulis yang katanya sedang kesepian dan keracunan.

“Kamu sudah baca buku ini?” tanya imas.

“Iya,” kataku, “buku itu lucu ya?” lanjutku.

“Haha,” ia tersenyum lebar.

“Aku baru beli buku itu seminggu yang lalu, di Brigif. Saat ada bazar buku,” kataku.

Lantas aku sedikit mengulas tentang beberapa hal yang ada di dalam buku tersebut. Tentang keunikannya. Tentang gaya tulisannya. Dan tentang alur cerita yang ada di dalamnya. Termasuk kata pengantar penulisnya yang cukup menggelikan. Dimana buku tersebut mendeskripsikan sebagai buku pembangun jiwa pembangkit arwah. Dan ditulis oleh seorang penulis mabuk di tengah kondisi kesendirian namun dengan inspirasi keroyokan.

Imas hanya tersenyum. Sinar wajahnya terpancar ketika mendengarkan penjelasanku. Ia tak banyak berkomentar. Namun hanya tertawa kecil saat aku terus mengulas bagian-bagian nyeleneh yang ada dalam buku tersebut.

“Kamu suka novelnya?” tanya Imas.

“Iya. Suka. Lumayan sih. Bagus,” jawabku.

“Haha. Iya. Makanya sekarang aku mau bikin sinopsisnya untuk di muat di artikelku,” ujar imas dengan nada gemas.

“Hehe.”

“Kamu tahu gak?” Imas nanya

“Apa?” tanyaku.

“Aku kenal dengan penulisnya.”

“Oiya? Benarkah?”

“Beneran. Dulu waktu aku aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, ia pernah mengisi materi di acara pesantren Jurnalistik.”

“Wah, beneran?”

“Iya. Asli ieu mah.”

“Pasti orangnya aneh ya?” tanyaku menebak-nebak

“Maksudnya?”

“Ya semacam.. Pemikirannnya nyeleneh. Atau misterius gimana gitu. Atau.. Ya suka bercanda misalnya. Soalnya.. Novelnya pun khowariqul adat[1] gitu, hehe.”

“Ih enggak, beda! Dia itu aslinya.. ya orangnya kalem. Dewasa sih. Berwibawa, ganteng dan terlihat karismatik. Nanti aku kenalin sama kamu, lah.”

Di tengah obrolan, dari dalam tas, tiba-tiba hapeku berbunyi. Nampaknya ada chat yang masuk.

“Wah.. Boleh tuh! Kenalin ya! Kali aja.. eum..” kataku.

“Duh berat, euy.”

“Emang kenapa?”

“Kalau kamu ketemu dia, nanti dia bakal suka kamu. Kamu pun bakal suka dia.”

“Iya gitu?”

“Bisa jadi. Dia itu baik dan ganteng. Kamu cantik.”

“Boleh tuh. Kan serasi,” kataku dengan ekspresi centil.

“Kamu mau nomor hape-nya?” tanya Imas.

“Boleh.” Kataku.

Lantas aku ambil handphone-ku dari dalam tas. Ya, untuk mencatat dan menyimpan nomor kontak sang penulis. Barangkali kelak aku akan membutuhkannya. Setidaknya buku karyanya membuatku kagum.

“Tunggu!” kataku kepada Imas agar ia tidak buru-buru menyebutkan kontak penulis.

Aku buka sebuah chat yang masuk di Whatsapp, namun belum kubaca. Dari Kang Ihsan.

Asslm. Neng, udah dimana? Akang nunggu di sekolah

Aku balas:

Di Masjid Agung. Lagi ngumpul sama Sarah dan Imas.

Kang Ihsan:

Oke. Akang tunggu kehadiranmu, ada kejutan..

Aku balas:

Sebentar lagi aku kesana, Kang.

“Siapa?” tanya Sarah kepadaku.

“Kang Ihsan,” jawabku.

“Ihsan yang anak pengusaha wajit itu?” tanyanya lagi.

“Iya,” jawabku.

Aku memberikan hapeku kepada Imas. Biar ia menuliskan nomor penulis buku “Front Pembela Cinta” di hapeku.

***

Mentari mulai semakin naik. Sepertinya ia ingin segera memuncak di langit. Mengawang di atas ubun-ubun. Aku, Sarah dan Imas segera berangkat ke lokasi acara reuni yang diadakan di sekolah. Di sana, kami akan bertemu dengan teman-teman yang lain, termasuk Anisa dan Ima.

Sepuluh menit naik angkot, kami sampai di sekolah. Sudah banyak yang berubah. Beberapa bangunan sudah ada yang nampak asing. Ruang osis dan ekskul yang kini berlantai dua. Kemudian ada pula jembatan cinta yang kini sudah diperlebar. Sebuah jembatan yang melintang di atas jalan raya yang menghubungkan area sekolah bagian atas dan bawah. Sekolahku memang terbagi dua. Dipisah oleh jalan raya.

Anisa dan Ima menyambut kami. Seperti biasa, kita langsung heboh. Centil-centil gimana, gitu. Kita kalau sedang kumpul memang seperti ini. Sudah sejak dulu.

Aku dan yang lainnya duduk melingkar di atas kursi yang memang sudah disediakan oleh panitia. Kita ngobrol asik. Bahkan hampir tidak memperdulikan sambutan-sambutan yang sedang disampaikan pada acara pembukaan.
__________
[1] Artinya: Di luar kebiasaan.

0 Response to "Ayumi dan Zainu (12): Reunian"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel