Kamis, 12 April 2018

Ayumi dan Zainu (5): Sindangkerta

Ayumi dan Zainu (5): Sindangkerta

Sekarang aku sedang berdandan. Siap-siap mau berangkat ke Sindangkerta. Bergaya di depan cermin sambil memastikan bahwa hidungku benar-benar mancung. Perempuan memang sudah biasa dandan. Tidak wajib. Tapi perempuan memang biasa dandan. Dalam sehari, selalu ada waktu untuk sekedar polas-poles atau merapihkan sesuatu. Entah hobi atau apa. Maklumi.

Kerudungku saat ini warnanya merah muda. Atau mungkin cenderung ungu. Dengan baju terusan yang agak panjang ditambah rok yang sedikit menyapu, nampak cantik. Alhamdulillah. Sepertinya aku memang anaknya Bapak dan Bunda. Anak gadis keturunan Sunda dan Jepang.

***

Saat ini, aku sedang berangkat menuju Sindangkerta untuk menjemput Keisuke. Di mobil hanya ada Aku, Teh Ani dan Kang Yadi. Seperti biasa, Kang Yadi yang membawa mobilnya. Ia memang sering mengemban tugas mengemudi . Gaya mengemudinya apik. Tapi kadang suka kalap kalau di jalan lurus.

Tentang Sindangkerta. Sindangkerta adalah sebuah daerah yang berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Mungkin jaraknya sekitar dua jam perjalanan dari rumahku di Cimahi. Kalau melihat rutenya, dari Cimahi kami melalui daerah Cimareme, Batujajar, Cihampelas, Cililin, kemudian barulah sampai di Sindangkerta. Semua nama-nama tersebut adalah tempat-tempat yang ada di wilayah kabupaten Bandung Barat.

Cimahi dan Bandung Barat merupakan dua wilayah yang masih termasuk zona Bandung Raya. Keduanya adalah daerah pemekaran dari Kabupaten Bandung. Jadi, setahuku di Bandung itu sebelumnya ada yang namanya wilayah Kota Bandung, ada pula wilayah Kabupaten Bandung. Nah, wilayah Kabupaten Bandung ini memiliki luas yang sangat besar daripada Kota Bandung. Oleh karena saking luasnya, Kabupaten Bandung pun akhirnya dipecah kembali. Hingga ada yang namanya Kota Cimahi dan ada pula Kabupaten Bandung Barat. Sehingga berbicara Bandung memungkinkan untuk tertuju ke empat wilayah. Yaitu Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat.

***

Tanpa terasa, mobil yang melaju kini telah sampai di Sindangkerta. Ternyata untuk menuju ke rumah Kang Zainu kami harus masuk lagi ke daerah perkampungan yang jalanannya cukup sempit, terjal dan banyak lubang-lubangnya. Jalannya tergolong jalan pedesaan yang kurang terurus. Hinga kami hanya bisa merayap pelan menyusurinya. Apalagi mobil yang kami bawa adalah mobil kota yang tingginya ceper.

***

Setelah beberapa waktu kemudian, akhirnya kami sampai di sebuah daerah yang cukup asri. Seperti sebuah komplek pesantren. Kata Kang Yadi, rumah Kang Zainu memang di sini, di pesantren. Ayahnya adalah seorang kiyai.

Kang Yadi sendiri sudah mengenal Kang Zainu cukup lama. Ia sering mengantarkan Keisuke ke rumahnya Kang Zainu. Sehingga Kang Yadi sudah tidak asing dengan sosok Kang Zainu.

Aku keluar dari mobil, lantas berdiri sejenak di dekat pohon jambu. Agak menjauh dari Teh Ani dan Kang Yadi. Soalnya aku tidak tahan ingin buang angin.

Kuperhatikan suasananya. Nampak sederhana tapi tertata. Terlihat bangunan-bangunan pondok yang terbuat semi permanen. Di sekitarnya ada madrasah, masjid dan beberapa bangunan lain yang nampak khas ala pesantren di pedesaan. Teduh dan adem.

"Asik! aya awewe geulis euy!"[1]

Tiba-tiba kudengar suara seseorang berteriak. Dan saat kutelusuri arah suaranya ternyata berasal dari bangunan pondok yang berada di sebelah samping tempatku berdiri.

"Halawa barudak! Halawa!"[2]

Ya, kudengar lagi teriakan-teriakan seperti itu. Aku sedikit melirik ke arah suara. Tak berapa lama, teriakan-teriakan itu kemudian semakin ramai. Dan memancing banyak orang bermunculan melihat ke arahku dari jendela-jendela pondok.

"Suit suwittt..!"

"Haha!"

"Prikitiwww!"

"Kerudung pink! Abdi bogoh!" [3]

Terlihat kepala-kepala manusia mulai semakin bermunculan dari jendela-jendela yang berbaris di sepanjang tembok. Mereka semua seperti penasaran ingin melihatku. Mereka memperhatikanku.

Entah bagaimana mulanya. Seketika alunan shalawat badar pun mereka kumandangkan diiringi tabuhan-tabuhan kentongan liar alakadarnya. Aku malu. Ya, aku semakin malu. Kok riweuh gini?

Wajahku mungkin berwarna merah sekarang. Hawanya panas sekali. Tidak tahu kenapa mataku mendadak berlinang air mata. Mungkin aku nangis. Begitu saja mengalir di luar kendali.

Selang beberapa saat seorang ibu tua datang dari sebuah rumah kecil sederhana yang tak jauh dari posisi di mana aku berdiri. Seketika itu pula, kegaduhan para santri mendadak berhenti, berganti dengan suara pijakan-pijakan kaki berlari, berhamburan, kemudian menjadi hening. Barisan kepala yang memenuhi jendela-jendela pondok pun seketika nampak tiada. Mungkin kehadiran si ibu ini membuat mereka segan, sehingga semuanya lari sembunyi.

"Aleuhh punten, Neng! barudak di dieu mah sok kitu da, balangor, resep hareureuy," katanya sambil menghampiri kami. Artinya, duh maaf! anak-anak di sini memang suka begitu, pada nakal, suka becanda.

Kulihat, ia nampak berusaha menenangkan kami, lantas tersenyum dengan diiringi raut muka yang sejuk. Ia bersalaman dengan Kang Yadi dan Teh Ani. Kemudian saling bertegur sapa. Sepertinya mereka memang sudah saling kenal.

Kemudian Ibu itu menghampiri ke arahku yang masih berdiri di dekat pohon jambu.

"Kenapa Neng Geulis? Kok pucat?" katanya sambil kemudian memegang tanganku. Dan satu tangannya yang lain merangkul pundakku. Ia nampak ramah. Menyambutku seolah tidak ada sekat sama sekali.

Aku masih terdiam. Terasa shock dengan fenomena barusan. Aku bingung. Sulit untuk mengungkapkan kekagetan yang aku alami barusan.

"Gak apa-apa kok, Umi. Si Eneng cuma agak kaget mungkin," kata Kang Yadi.

"Iya,” kata Teh Ani yang kemudian menghampiri dan menyeka pipiku.

"Anak-anak di sini memang suka pada nakal, tapi cuma becanda kok," kata si ibu lagi sambil senyum padaku.

Kali ini aku membalas senyumannya. Aku ngerti, yang barusan memang hanya candaan. Dan memang sebagian santri di pesantren mana pun kadang suka ada saja yang suka usil. Setiap pesantren pasti punya kultur yang berbeda. Tergantung dari dinamika yang terbangun. Tidak selalu santrinya adem semua. Kadang, ada saja santri yang jail. Dan aku cukup mengerti itu.

"Neng! Ini tuh ibunya Kang Zainu," kata Kang Yadi seperti sedang berbisik padaku namun bisa terdengar oleh semua.

Aku senyum dengan sedikit menganggukan kepala.

"Nah, Umi! Ini Ayu, kakaknya Keisuke yang kuliah di Mesir itu," lanjut Kang Yadi berbicara kepada si ibu.

"Wah, cantiknya!" kata si ibu dengan ekspresi sumbringah. "Jadi ini perempuan tercantik sekelurahan yang biasa diceritakan Keisuke? Kalau Menurut Umi, sedunia ah!" katanya lagi.

"Makasih, Bu!" kataku sembari senyum.

"Jangan panggil ibu! Panggil saja ‘Umi’. Biar sama kayak yang lain," katanya.

Aku pun menganggukan kepala. Tak lama, Umi kemudian mengajak kami masuk ke dalam rumah. Di sana, kami duduk di atas sebuah karpet sambil berbincang-bincang. Kuperhatikan, Umi nampak baik dan ramah, wajahnya sejuk. Tutur katanya halus. Dan sangat terbuka menyambut kami. Cara komunikasinya sangat khas sebagaimana istri Kyai pada umumnya.

"Mmhh, sekarang Keisukenya di mana, Umi?" kata Teh Ani kepada Umi.

"Keisuke lagi di kebun belakang, bersama Kang Zainu. Mereka sedang membantu Abi memperbaiki kandang kambing," kata Umi.

"Wah? Sekarang Abi ngurus kambing ya, Umi?" kata Kang Yadi menimpal.

"Itu kambingnya Keisuke. Cuma, ia agak maksa minta dititipin sama Abi. Katanya, biar kelak kambingnya jadi sebesar kerbau Sumatra."

"Haha, ada-ada saja si Akei,” kata Kang Yadi.

Kemudian, Umi mengajakku untuk menemui mereka di kebun. Aku iyakan. Aku ingin sekali melihat kebun dan pesawahan. Sejak kecil, aku hidup di daerah perumahan. Di daerah yang bernuansa kota yang tidak ada sawah dan kebun. Sehingga kadang, melihat kebun dan pesawahan membuatku seolah mendapat nuansa baru yang lebih alami.

Tapi Kang Yadi dan Teh Ani malah enggan. Katanya, mereka ingin menunggu saja, tidak ikut ke kebun. Tak apa. Aku sudah terlanjur menyetujui ajakan Umi. Aku lantas beranjak mengikuti Umi.

Tapi tidak tahu kenapa, tiba-tiba aku merasa menjadi degdegan. Aku mendadak canggung. Entah apa. Kurasa bukan karena Umi. Apa mungkin karena sebentar lagi aku akan bertemu Spiderman? Orang aneh yang tadi pagi bilang kalau di rumahnya ada monster luar angkasa, terus ada dinosaurusnya, malah ada tawuran mahasiswanya. Entahlah, aku merasa paranoid.

"Umi!" kataku.

"Apa?" kata Umi.

"Umi kok baik dan ramah," kataku lagi.

"Lho? Kok tiba-tiba bilang gitu?" Tanya Umi sambil senyum walau sedikit mengerutkan dahi.

"Umi sangat baik, beda dengan Kang Zainu," kataku.

"Emh? Emang kenapa? Neng kenal sama si Aa?"

"Enggak sih. Cuma tahu aja. Soalnya Kang Zainu pernah beberapa kali nelpon Ayu. Tadi pun sebelum ke sini kita sempat teleponan.”

“Oh gitu.”

“Dia melarang Ayu datang ke sini, Umi. Dia bilang di rumah Umi ada monster luar angkasanya."

"Haha," Umi tertawa spontan. "Enggak ah, masa si Aa bilang gitu?"

"Iya Umi. Bahkan katanya, di rumah Umi ada dinosaurus dan ada tawuran mahasiswanya."

"Hehe, kabina-bina eta budak,"[4] kata Umi sambil menggelengkan kepala. Artinya, keterlauan. "Terus apalagi?" lanjut Umi.

"Waktu pertama nelpon, dia bilang, dia itu adalah Spiderman, Umi."

"Hah? Spiderman itu apa?" tanya Umi. Mungkin Umi tidak tahu Spiderman.

"Itu Umi, super hero, jagoan yang ada di film kartun yang suka pakai topeng merah, ada jaring laba-labanya."

"Oh iya-iya. Mungkin yang kaya tengkorak itu," kata Umi, "Dulu waktu masih sekolah, si aa memang suka ngoleksi mainan dan poster-poster seperti itu."
____________
[1] Asik! Ada perempuan cantik.
[2] Ada yang manis-manis, teman-teman!
[3] (Yang pakai) kerudung pink, aku suka kamu!
[4] Keterlaluan itu anak!
KLIK LANJUT KE PART 6
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
 

Masukan email Anda di bawah ini