Ayumi dan Zainu (6): Dia Adalah Kang Zainu

Ayumi dan Zainu (6): Dia Adalah Kang Zainu

Selang beberapa saat, aku dan Umi sampai di sebuah lokasi yang dipenuhi dengan tanaman jagung dan beberapa pepohonan rindang. Kulihat dari kejauhan, Keisuke nampak sedang duduk di atas batu besar bersama seorang Bapak tua, mungkin itu Abi.

"Abi! Keisuke! Ada tamu!" kata Umi setengah berteriak.

Kemudian mereka melihat ke arah kami. Sedangkan kami masih terus berjalan menuju ke arah mereka.

"Eh ada tamu? Siapa, Umi? Kok dibawa ke kebun?" tanya Abi.

"Wah cantiknya! Mungkin si teteh ini pacarnya Aa Jendral, Abi!" kata Keisuke menimpal dengan muka datar seolah-olah ia tidak mengenaliku.

Aku mendadak tersentak mendengar ucapan Keisuke. Membuat langkahku hampir tersandung. Membuatku mendadak salah tingkah.

"Hati-hati!" kata Umi sambil memegang lenganku.

Aku kemudian menghampiri Abi dan bersalaman dengannya.

"Saya Ayumi, Abi. Kakaknya Keisuke," kataku.

"Oh. Iya.. Iya.. Pantesan dari tadi Keisuke cerita, katanya, hari ini ia mau dijemput pulang oleh hurrun ‘ein,[1]” ujar Abi.

Aku senyum sejenak, lantas mendekati Keisuke dan mencubit pipinya. Kemudian kami pun mengobrol untuk berberapa saat. Aku menanyakan kabarnya serta memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja. Aku pun sempat memarahinya karena telah membuat seisi rumah khawatir akibat ulahnya yang pergi jauh tanpa izin yang jelas, bahkan tidak pulang ke rumah.

Kemudian, aku berbincang dengan Abi dan Umi, tentang perilaku Keisuke. Aku takut selama ia berada di sini, ia banyak merepotkan. Tapi nampaknya Abi dan Umi tidak terlihat keberatan, malah nampak senang dengan adanya Keisuke.

Di sela-sela perbincangan, aku sempat memperhatikan Abi. Menurutku ia adalah sosok yang sangat baik, ramah dan juga perhatian. Sesekali aku melihat Abi membersihkan baju Keisuke yang nampak kotor. Ia cukup perhatian terhadap adikku itu. Bisa jadi orang yang tidak tahu hubungan keduanya mungkin akan mengira bahwa keduanya itu adalah ayah dan anak.

"Abi!" kata Keisuke.

"Apa?" kata Abi.

"Akei mau bawa teteh ke sana dulu," kata Keisuke sambil menunjuk sebuah gubuk, atau seperti kandang kambing.

"Oh, iya sok!" kata Abi, "Tapi Abi dan Umi mau segera ke rumah, mau bersih-bersih. Gak apa-apa kan?" tanya Abi.

"Iya, gak apa-apa," kata Keisuke.

Kemudian Abi dan Umi beranjak menuju rumah. Mereka saling bergandengan tangan. Terlihat romantis untuk pasangan yang usianya sudah tidak lagi muda.

"Nah, sekarang kita mau kemana, Kei?" tanyaku.

"Ke sana! Teteh harus lihat kambing-kambing punya Akei."

"Emang Akei punya?"

"Iya dong, sudah dua ekor," katanya.

Beberapa saat kemudian, kami sampai di sebuah kandang kambing. Di dekatnya, kulihat ada seorang pemuda memakai kaos berwarna putih, bersarung, dan memakai peci berwarna hitam. Ia nampak sedang serius memotong batangan bambu sambil menduduki batangan yang bambu lain.

“Jendral!” Kata Keisuke memanggil orang tersebut.

Dari panggilan Keisuke, aku lantas mengerti, orang itu mungkin Kang Zainu, si spiderman. Tidak salah lagi. Kalau pun bukan? Pasti pilihan lainnya adalah batman, tidak lebih. Tapi masalahnya bukan di situ. Saat ini aku mendadak canggung. Aku merasa tidak nyaman harus bertemu seseorang yang sempat membuatku ilfeel lewat telpon.

Aku sempatkan untuk memegang hidungku. Aku ingin memastikan bahwa hidungku masih tetap mancung. Bahkan, tidak tahu kenapa aku jadi ingin merapikan kerudungku. Sambil sesekali mengatur nafas biar rasa canggungku hilang.

Aku jadi teringat sesuatu, di tasku. Ya, di tasku ada sebuah cermin kecil yang biasa aku pakai untuk bedakan. Aku ingin mengambilnya! Tapi, ah, sepertnya tidak akan sempat. Aku ingin bercermin.

“Ada apa Kei?” tanya Kang Zainu santai. Namun ia sambil terus memotong batangan bambu dengan golok yang ada di tangannya. Ia tidak melihat ke arah kami. Sepertinya ia belum menyadari akan kedatanganku.

“Assalamualaikum!” kataku memberanikan diri mengucap salam terlebih dahulu. Mendadak, ia nampak berhenti membelah bambu setelah mendengar suaraku. Dan seketika itu pula ia menoleh ke arahku.

Cessssss! Entah apa, saat tatapan mata kami bertemu, tiba-tiba aku merinding. Seperti ada kipas angin yang berhembus di sekujur tubuhku. Jantungku bergemuruh bagaikan rentetan tembakan senjata yang sedang kalap. Pandangan ini, ah.

Tidak salah lagi. Kang Zainu adalah orang yang aku temui saat hendak menjemput Keisuke di pesantren. Dia orang yang kukira mengenalku, namun ternyata hanya menebak namaku karena di tasku memang tertulis nama Ayumi Nur Aziza.

“Kang Zainu ya?” kataku sambil berusaha mengeluarkan sebuah senyuman dari bibir tipisku.

“Wa’alaikum-” ia nampak bengong “-salaam!” ujarnya dengan ucapan yang agak terputus.

“Kang Zainu?” kataku lagi mengulang pertanyaan.

“Iya,” katanya singkat.

Ia terlihat salah tingkah. Mungkin karena kepergok sedang bekerja sambil duduk-duduk di dekat kandang kambing. Kulihat ia nampak serbasalah. Tangan kanannya masih memegang golok, sedangkan tangan kirinya lantas sibuk merapikan peci yang ada di atas kepalanya. Bahunya, lantas ia gesekan ke bagian leher dan dagu untuk memupus keringat yang memang nampak bercucuran.

Aku diam, dia pun diam. Aku bingung, harus bicara apa lagi sekarang. Dihadapkan dengan seseorang yang dalam imajinasiku memiliki citra yang tidak terlalu baik.

Entahlah. Entah apa yang salah hingga membuatku merasa kaku. Pedahal, ini hanya pertemuan biasa. Sebelumnya, bukankah aku pun pernah bertemu dengannya di pesantren itu? Dan semua biasa-biasa saja. Lantas kenapa kini menjadi agak canggung.

“Kapaaaaal!! Minta duiiiit!!” teriak Keisuke tiba-tiba sambil menatap ke arah langit. Terasa mengagetkan, dan malah membuat suasana menjadi lebih aneh. Pedahal, di langit tidak ada satu pesawat terbang pun yang melintas.

Aku jadi canggung, semakin bingung. Tapi kurasa Kang Zainu pun merasakan hal yang sama sepertiku.

“Teh, ini namanya Aa Jendral,” kata Keisuke kepadaku.

Kang Zainu lantas menganggukkan kepala sambil tersenyum padaku, “Nepangkeun, ana Zainu, asy’uru farhan syadidan ala liqoina hadza,[2]” katanya.

“Ana Ayumi. Allohu yubaarik lana,” kataku.

“Aiwa.. Roaitu ismaki fil haqiibah. Allohu yubaarik lana.”

“Aa Jendral!” kata Keisuke kemudian menyeru Kang Zainu, “Bukankah katanya kalau bertemu dengan tetehku bakal nyanyi ‘you are beautiful.. beautiful.. kamu cantik, cantik, dari hatimu’, mana?” kata Keisuke sambil menyanyikan lagu tersebut.

“Hehe,” aku tertawa geli. Spontan, tidak tahan melihat Keisuke menyanyikan lagu itu sambil menggerakkan badannya. Ala penonton bayaran yang suka nongkrong mengiringi acara musik di televisi.

“Toyyib! Laa ba sa! Sa af’alu dzalik,” kata Kang Zainu yang sudah nampak bisa mencairkan suasana. Artinya, baiklah! Tak masalah! Akan aku lakukan!.

“Tafaddlol! Haha,” kata Keisuke. Artinya, Silahkan!

Aku langsung mengatur nafas. Berusaha mengendalikan diri. Sebab aku mendadak panik. Imajinasiku langsung menerawang sesuatu yang akan nampak konyol. Aku takut Kang Zainu benar-benar melakukan itu. Aku takut ia akan terlihat lucu. Aku tidak ingin tertawa bahkan senyum sekali pun dengan apa yang akan dia lakukan. Aku harus menjaga citra sebagai seorang perempuan muslimah yang baik.

Aku adalah mahasiswi Al-Azhar. Aku adalah anak gadis dari seorang ayah yang berprofesi sebagai dosen, dari seorang ibu yang berprofesi sebagai dokter. Maka aku harus terlihat anggun dan baik. Setidaknya bukan karena aku ingin dipandang baik. Tapi memang seorang muslimah harus bisa menjaga akhlak dirinya dan menjaga martabat kedua orang tuanya.

Aku takut bila aku tertawa geli. Aku tidak mau terlibat dengan sesuatu yang akan terkesan konyol. Kurasa, yang dilakukan Keisuke barusan saja sudah cukup. Tidak perlu ditambah oleh orang dewasa seperti Kang Zainu.

“Ayumi!” kata Kang Zainu.

“Apa?” kataku mendadak dingin.

“Kamu tahu? Sekarang aku akan menyanyi?”

“Enggak.”

“Kamu mau aku menyanyi untukmu?”

“Mmmhh, terserah!” kataku. Meski sebenarnya aku tidak ingin dia bernyanyi. Aku takut.

Entah kenapa. Sejatinya aku tidak mengenal Kang Zainu. Dan tadi saat bertemu dengannya, aku memang merasa canggung. Namun sekarang, aku justru bersikap dingin. Bersikap seolah aku sudah mengenal Kang Zainu.

“Tapi, bolehkah aku berpuisi dulu?” tanyanya lagi.

“Terserah deh!” kataku.

“Oke! Puisi ini judulnya perahu cinta, dengarkan!” katanya.

Wahai safinah cinta
Desir hati ini telah kulayarkan dalam ombak-ombak asmara
Pasal cinta telah kubacakan dalam puisi jingga
Puisi yang akan mengantarkan kita dalam purnama
Selayaknya pandang membuat rupa
Mengalir menguasai hati
Selayaknya cinta tiada rupa
Sama mengalir menguasai hati
Siapa aku ini yang berbicara cinta
Sedangkan cintanya tiada
Siapa aku ini yang berperilaku jahat
Sedangkan cintanya jelas terpahat
Cinta itu adalah rahmat yang lazim dengan penghormatan


“Dibuat di sini, hari ini,” katanya.

Ketika Kang Zainu membacakan puisinya, jujur, aku tersipu. Aku suka dengan caranya membacakan puisi. Aku suka dengan puisinya. Namun aku tidak ingin terlalu meresponnya. Biar aku saja yang tahu.

Sebenarnya dulu waktu di Mesir, aku pun pernah dibacakan puisi oleh Gus Usman. Sebuah puisi romantis yang ia buatkan untuku. Puisi hadiah, sebuah puisi tanda terimakasih karena aku telah membantunya menyusunkan proposal untuk kegiatan seminar. Puisi yang bagus, dan aku sangat suka. Bahkan sampai saat ini, salinan puisinya masih aku simpan di catatan harianku. Judulnya Al-Wardatu Tu’iinunie, artinya, Sang Mawar yang menolongku. Puisi yang selalu memberi rasa semangat lebih. Ya, Gus Usman. Sedang apa dia sekarang? Lama kita tidak berjumpa.

“Ayumi!” kata Kang Zainu.

“Apa?” kataku.

“Kamu melamun?”

“Enggak!”

“Terus? Kok bengong?”

“Hmmh.”

“Aku mau ngasih kabar untukmu?”

“Apa?”

“Aku gak jadi nyanyi.”

“Kenapa?”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Aku takut malu.”

“Hanya manusia saja yang punya rasa malu, Kang,” kataku bercanda.

“Terus? Aku bukan manusia? Gitu?”

“Kan Akang itu Spiderman, laba-laba,” kataku.

“Tapi, laba-laba juga punya malu.”

“Iya gitu?”

“Iya. Kan laba-laba punya kemaluan.”

“Ih! Apaan sih?”
___________
[1] Bidadari surga
[2] Kenalkan, aku Zainu. Senang sekali kita bisa bertemu
KLIK LANJUT KE PART 7

0 Response to "Ayumi dan Zainu (6): Dia Adalah Kang Zainu"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel