Ayumi dan Zainu (7): Bertemu dan Ngobrol

Ayumi dan Zainu (7): Ngobrol

Aku sempatkan untuk melihat kambing-kambing yang terpenjara di kandang. Kambing-kambing yang kata Keisuke kelak akan tumbuh sebesar kerbau Sumatra. Tapi itu hanya sekedar khayalan Keisuke. Kalau prediksiku, semua kambing ini akan tumbuh menjadi kambing biasa. Besarnya paling seukuran domba garut. Tidak akan lebih.

Jumlah kambingnya ada enam. Katanya, dua milik Keisuke dan empat sisanya punya Abi. Kambing milik Keisuke masih kecil, belum dewasa, masih nampak lucu-lucu.

Entah kenapa, aku punya inisiatif untuk memberi nama bagi kedua kambing milik Keisuke itu. Kuberi nama Wibowo dan Anggun. Nama yang pas untuk menggambarkan sosok jantan dan betina.

“Gimana? Setuju?” kataku pada Keisuke.

“Gak mau ah! Terlalu standar,” kata Keisuke.

“Udah ih! Bagus itu,” kataku.

“Enggak mau,” kata Keisuke lagi. “Gimana kalau namanya Anang Hermansyah dan Agnes Monica? Gimana?” katanya.

“Jangan! Itu nama artis.”

“Tapi aku suka nama itu.”

“Jangan!” kataku sambil melotot.

“Hehe. Iya deh,” katanya.

Kulihat Kang Zainu hanya diam. Ia tidak berkomentar apapun kecuali guratan-guratan senyum yang nampak dari ekspresi wajahnya. Ia nampak khusyu memperhatikan aku dan Keisuke yang tiada henti melempar kata. Aku memang agak bawel pada Keisuke.

“Teh!” kata Keisuke lagi tiba-tiba.

“Apa?” kataku.

“Akei mau ke toilet dulu, boleh kan?” ujarnya mendadak minta ijin. “Teteh tunggu disini!” katanya lagi sambil kemudian pergi sebelum aku sempat menjawab apapun.

Alhasil, aku menjadi sangat bingung. Sekarang, hanya aku dan Kang Zainu di sini. Berdua saja. Kami hanya ditemani kambing-kambing yang sedang asik mengunyah rerumputan di kandang.

Lama kelamaan, aku bingung. Bagaimana ini? Kulihat Kang Zainu nampak diam. Mungkin ia merasakan ketidak nyamanan seperti apa yang aku rasakan saat ini. Kita hanya berdua. Di kebun. Di tengah suasana sepi. Jelas tidak baik dan sangat tidak nyaman.

Aku bingung, harus bagaimana. Akhirnya sesekali aku bertingkah seolah-olah sedang memperhatikan kambing-kambing yang sedang asik makan. Sedikit mondar mandiri tidak jelas. Atau melihat kuku-kuku jari tanganku yang nampak indah terawat karena sering pergi ke salon. Sesekali aku bergumam, mengeluarkan berbagai irama dari mulutku seperti sedang menyanyikan sebuah lagu. Berusaha mengulur waktu sambil menunggu Keisuke kembali.

“Ehemm!” terdengar suara Kang Zainu.

Aku lantas melirik ke arahnya. Memastikan Kang Zainu tidak bergumam padaku.

Duh! Keisuke lama sekali. Pedahal dia pergi sudah cukup lama. Kalau sekedar pipis ke toilet rasanya tidak akan selama ini. Membuatku kesal. Apalagi dengan suasana seperti ini. Suasana dimana hanya ada aku dan Kang Zainu.

Tidak ada satu obrolan pun yang keluar dari mulut kami. Sungguh kurasakan suasana yang sangat tidak nyaman.

Ya, aku adalah seorang perempuan. Tentunya aku merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Kondisi dimana aku hanya berdua bersama seorang lelaki yang belum aku kenal, di kebun, dan di dekat kandang kambing yang menyerupai gubuk.

Aku takut, pemikiranku menjadi paranoid. Tiba-tiba saja jantungku kini berdetak lebih kencang. Tapi aku harus bagaimana? Bunda! Aku takut. Allohumma aatinii salaamah. Dan kuharap Kang Zainu bukan orang yang jahat Mudah-mudahan.

Aku bingung. Apa yang mesti aku lakukan? Apakah aku harus membuka obrolan terlebih dahulu untuk mencairkan suasana? Atau cukup menunggu Kang Zainu yang memulainya? Musykil.

“Hari ini cuacanya agak mendung ya?” kataku memberanikan diri membuka obrolan.

“Siapa?” katanya.

“Cuacanya,” kataku.

“Maksudnya, siapa yang nanya sama kamu?” katanya dengan muka datar.

“Ihhhhhhh!” kataku dengan ekspresi agak cemberut. Gendok sekali rasanya. Menyesal barusan membuka obrolan terlebih dahulu.

Sungguh aku menjadi ilpil. Siapa pun pasti tidak enak ditanggapi demikian. Apalagi di tengah suasana yang tidak nyaman seperti ini. Membuatku sakit hati. Aku ingin nangis. Aku memang memang manja. Aku tidak biasa diperlakukan seperti ini.

“Kenapa cemberut?” katanya dengan muka yang masih sangat datar ditambah suara yang agak sinis.

“Ih kok gitu!” kataku.

“Biarin! Emang kenapa?” katanya sambil melihat ke arahku dengan tatapan yang agak menyorot tajam.

“Kamu jahat ya?” aku nanya.

“Iya,” katanya.

Entah kenapa aku menjadi semakin degdegan. Aku sangat takut sekali. Orang ini bicaranya agak tinggi.

“Beneran?” Aku nanya dengan rasa gelisah. Aku tak mengerti kenapa aku tanya demikian.

“Iya,” katanya dengan suara yang digeramkan.

“Hiks!” Aku ingin nangis. Hawanya panas sekali. Jantungku berdebar kencang.

“Eh? kok nangis?” Tanyanya padaku. “Aku kan cuma bercanda, Ayumi,” katanya lagi.

“Siapa yang nangis?” kataku.

“Terus? Itu apa? Ada linangan air mata!” katanya.

“Enggak!” Kataku sembari mengusap kedua mataku. Dan kurasakan memang ada linangan air mata. NampSepertinya mataku tidak bisa berbohong.

“Kang!” kataku.

“Apa?” sahutnya.

“Tolonglah, jangan membuatku takut!” Kataku memohon padanya.

“Enggak. Barusan, aku cuma bercanda, Ayumi.”

“Hibur aku! Biar aku tidak takut.” Kataku dengan begitu saja.

“Iya. Maaf! Ayumi”

Kulihat ia diam. Ia nampak sedang berpikir.

“Ayumi!” katanya.

“Apa?”

“Aku mau bercerita, boleh?” katanya meminta persetujuan.

Aku tidak menjawab, tapi hanya menganggukkan kepala.

“Begini, kurasa kamu masih ingat saat pertama kali kita bertemu, di pesantren. Saat itu kamu mau menjemput Keisuke. Dan aku tahu, pada saat itu kamu sudah mencintaiku kan?”

“E?!” kataku mendadak sewot. “Belum!” kataku lagi.

“Hehe,” ia tersenyum. “Kok jawabannya belum? Kalau begitu, berarti sekarang kamu mencintaiku?” Ucapnya geli. Aneh.

“Ya belum! Aku tidak mencintaimu,” kataku dengan manyun.

“Hehe.”

Sebenarnya, aku merasa heran dengan Kang Zainu. Kok bisa-bisanya dia bilang begitu. Menyertakan cinta dalam ucapannya. Menyematkan rasa dalam perkataanya. Meskipun, aku sadar, semua yang ia ucapkan mungkin hanya candaan belaka. Tapi, sebagai seorang perempuan, aku merasa hal tersebut aneh. Malah membuat perasaanku campur aduk.

Aku tidak mengenal Kang Zainu. Aku tidak begitu tahu tentangnya. Kecuali Bapak dan Bunda memang pernah menceritakannya. Keduanya nampak kagum dengan Kang Zainu. Meski entah apa alasannya, aku tidak tahu. Mengapa Bapak dan Bunda begitu suka dengan seseorang yang dalam pandanganku hanya merupakan sosok lelaki, maaf, aneh.

“Ayumi!” Kang Zainu menyeruku lagi.

“Apa?” kataku.

“Saat itu, saat kamu datang ke pesantren, aku langsung mencari Keisuke agar kamu tidak lama menunggu. Tapi kamu tahu? Setelah aku bertemu dengan Keisuke, aku langsung diculik oleh siluman harimau. Jadi aku tidak sempat menemuimu lagi. Maaf!”

Aku diam mendengar ucpannya, tapi ketika pikiranku menerawang, tiba-tiba, aku tersendak mendadak ingin tertawa.

“Kenapa?” ia nanya dengan muka heran.

“Saat itu, di tangga, aku lihat kamu terpeleset. Terus sarung kamu tersingkap. Aku melihat...”

“Hussshhh! Kamu ngelihat?”

“Iya, hehe.”

“Haha.”

***

Setelah itu, aku mulai mengobrol banyak dengan Kang Zainu. Aku mulai terbiasa untuk berbicara dengannya. Aku ngobrol. Aku meladeninya. Meski alurnya memang sulit ditebak dan terkadang ada beberapa yang malah ngawur. Namun aku mulai terbiasa. Aku mulai bisa mengikuti iramanya.

Akhirnya, tanpa kusadari kita mulai terbuka. Kita saling bercerita tentang banyak hal. Aku mendengarkan cerita-ceritanya yang lucu. Dan kupikir dia memang lucu. Tidak seseram yang aku pikirkan. Meski aku belum percaya dengan apa yang ia ceritakan. Aku merasa tidak yakin dengan beberapa ceritanya.

Masa dia bilang, katanya dulu waktu di pesantren, ada salah satu temannya yang sedang sakit, mungkin sedang masuk angin. Dan kemudian, temannya itu meminta Kang Zainu untuk ngerokin badannya. Eh tahunya saat dikerokin, muncul tulisan “Coba lagi, lain kali pasti dapat!” Haha.

Atau saat dia bilang, dulu dia pernah mempunyai seorang teman yang memiliki kebiasaan aneh. Orang itu selalu alergi jika mendengar kata “Ayumi”.

“Wah? Benarkah?” tanyaku pura-pura heran.

“Iya,” katanya.

“Terus gimana?” aku nanya.

“Pokoknya, jika orang itu mendengar kalimat yang mengandung kata Ayumi, maka dia akan merasa alergi.”

“Ah masa? Gak mungkin!” kataku jadi pura-pura penasaran.

Entah kenapa aku jadi menikmati alurnya. Aku menjadi senantiasa meladeni setiap obrolan yang Kang Zainu utarakan.

“Beneran!” ujarnya dengan ekspresi seperti sedang meyakinkan, “Jika ada orang yang bilang ‘Ayumi jahat’, maka secara tiba-tiba dari hidungnya akan keluar goreng pisang.”

“Hahaha,” aku tertawa, “Terus?” tanyaku penasaran.

“Terus, jika ada orang yang bilang ‘Ayumi jelek’, maka secara tiba-tiba dari telinganya akan keluar seekor gajah.”

“Ah ngawur,” kataku.

“Nah, jika ada yang bilang ‘Ayumi cantik’, barulah dia akan mual muntah-muntah. Hahaha.”

“Ihhhh! Nyebelin,” Kataku dengan ekspresi kesal.

Tapi tidak apa, lah. Apapun yang dia katakan, benar atau bohong, aku menjadi suka. Semua yang ia ceritakan, entah kenapa aku jadi menikmatinya. Mungkin itu adalah bagian dari caranya untuk menghiburku. Dan ini berarti, ia telah memenuhi permintaanku untuk membuatku merasa terhibur.

Kini kami semakin akrab. Aku menjadi leluasa untuk mengobrol dengannya. Bercerita tentang kehidupanku, dulu, sekarang, dan harapan-harapanku di masa yang akan datang. Bercerita tentang Al-Azhar, Mesir, serta sekelumit kebahagiaan dan permasalahan yang aku temui di dalamnya. Bercerita tentang Bapak, Bunda, Keisuke, dan tentunya bercerita tentang semua hal yang bisa aku ceritakan.
KLIK LANJUT KE PART 8

0 Response to "Ayumi dan Zainu (7): Bertemu dan Ngobrol"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel