Ayumi dan Zainu (8): Pengalaman Seru

Ayumi dan Zainu (8): Pengalaman Seru

Langit nampak kurang bersahabat. Gerimis mulai turun bertabur. Bahkan entah mengapa malah mendadak deras. Lantas, Aku dan Kang Zainu segera bergegas untuk kembali menuju rumah. Sebelumnya, kami sempat merapikan terlebih dahulu beberapa batang bambu yang berserakan di tanah. Bambu-bambu yang tadi sudah dipotong oleh Kang Zainu.

Setelah itu kami segera berjalan menuju rumah. Tentunya dengan agak tergesa-gesa. Aku sendiri melindungi bagian kepalaku dengan selembar daun pisang yang telah disediakan oleh Kang Zainu. Sedangkan Kang Zainu, ia tidak menggunakan apapun untuk melindungi tubuhnya dari guyuran hujan. Daun pisangnya habis, cuma ada satu.

Sesampainya di teras rumah, aku berpisah dengan Kang Zainu. Katanya ia mau langsung menuju kamar mandi yang ada di pondok putra. Kulihat ia berlalu menerobos hujan dengan langkah agak berlari. Dan Sepertinya ia hendak terpeleset, namun tidak jadi. Syukurlah.

Aku masuk ke dalam rumah. Di sana nampak ada Abi, Umi, Teh Ani dan Kang Yadi. Serta ada Keisuke pula. Mereka semua terlihat sedang asik mengobrol. Kecuali Keisuke, ia sedang tidur di samping Umi. Pantas jika tadi aku menunggunya cukup lama. Ternyata dia tidur pulas.

Keisuke, selalu saja bikin masalah. Tapi tak apalah. Toh, ada hikmah yang aku dapatkan sekarang. Aku menjadi cukup dekat dengan Kang Zainu. Menjadi semakin akrab dengannya. Menjadi banyak tahu tentangnya. Tentang orang yang pernah meneleponku dengan cara yang tidak jelas.

***

Sekarang, pakaianku agak sedikit basah. Tapi hanya bawahannya saja. Mungkin karena terkena cipratan air. Tak apa, tak masalah. Toh, aku membawa sarung batik yang bisa aku pakai untuk menggantikan rok panjangku yang basah ini.

“Dari mana? Kok lama?” tanya Teh Ani.

“Itu, dari kandang kambing,” kataku.

“Ngapain?”

“Habis lihat-lihat kambing. Sambil ngobrol-ngobrol dengan Kang Zainu.”

“Neng suka?”

“Mmmh, gimana ya?” kataku seperti sedang bertanya pada diriku sendiri, “Iya suka. Kang Zainu orangnya baik, enak kalau diajak ngobrol. Pokoknya asik lah!” kataku sambil kemudian tersenyum.

“Hehe. Maksud Teteh bukan Kang Zainu. Neng suka lihat-lihat kambingnya?”

“Oh?! Kirain..” kataku agak malu “Iya. Itu juga suka kok,” lanjutku menerka.

Kulihat semua jadi nampak tersenyum mesem melihatku. Aku jadi malu. Bahkan agak sedikit salah tingkah. Aku kira Teh Ani barusan bertanya tentang kang Zainu padaku. Ternyata bukan. Pertanyaan Teh Ani memang kurang jelas. Membuatku salah tafsir. Tapi tak apa. Mudah-mudahan rasa malunya segera hilang.

Setelah berbincang-bincang beberapa saat, aku lantas mendekati Umi.

“Umi! Aku mau shalat dzuhur,” kataku kepada Umi.

“Iya, Umi juga mau shalat dzuhur. Kita berjamaah di mushola, dengan santriah,” kata Umi.

Setelah itu, kami bergegas untuk melaksanakan shalat dzuhur. Umi mengajak aku dan Teh Ani menuju mushola yang memang disediakan khusus bagi para santri putri. Letaknya tak jauh dari rumah. Hanya terhalang oleh satu bangunan pondok.

Nampak di mushola sudah banyak orang berkumpul. Semuanya menunggu Umi untuk melaksanakan shalat berjamaah. Tapi Umi malah menyuruhku untuk menjadi imam. Sebenarnya aku enggan untuk menjadi imam. Aku merasa tidak enak.

Umi terus membujukku. Katanya, imam shalat berjamaah di sini memang sering bergiliran, kadang Umi, kadang juga santri-santri putri yang sudah dewasa. Dan sekarang, Umi memintaku menjadi imam. Apalagi statusku adalah mahasiswi Al-Azhar yang katanya sudah pasti baik dalam bacaan Al-Qur’an.

Baiklah, aku iyakan. Ngalap barokah.

Selepas shalat, kami membacakan dzikir bersama. Dilanjutkan dengan tadarrus Al-Qur’an. Semua ini adalah sesuatu yang baik untuk dilakukan. Aku merasa senang dengan suasana seperti ini. Suasana di mana banyak orang yang dzikir dan melafalkan ayat suci Al-Qur’an secara berjamaah. Suasana yang sering aku rasakan ketika mondok di pesantren dulu. Suasana yang jarang aku temui di tempat-tempat biasa.

Waktu sudah berjalan beberapa saat. Dan nampaknya aku tidak bisa berlama-lama di sini. Waktu sudah cukup mepet. Aku harus segera pulang ke Cimahi agar nanti tidak terlalu sore datang ke rumah.

Aku akhiri pengajian singkatku bersama para santri putri di sana. Lantas aku bergegas keluar bersama Teh Ani, disusul Umi.

Sebelum pulang ke rumah, aku sempatkan untuk mencicipi makanan terlebih dahulu. Menyantap hidangan yang telah disediakan oleh Abi dan Umi. Nikmat rasanya menyantap makanan bersama Keisuke, Kang Yadi dan Teh Ani. Tentunya ditemani Abi dan Umi.

Kami nampak lahap dengan semua makanan yang dihidangkan. Pedahal jika aku harus membandingkan, semua menu yang disediakan Umi terbilang sederhana. Tidak serumit masakan yang biasa disajikan di rumah. Di sini hanya ada menu ikan asin, tahu, tempe, semur jengkol, sambel goang, peteuy, tumis iwung dan sayur kacang merah. Tapi kami sangat suka. Bahkan aku sampai beberapa kali nambah.

Aku merasa nyaman di sini. Seperti sedang berada di rumah sendiri. Tidak ada kecanggungan. Semua terasa lepas dan mengalir dengan leluasa. Aku merasa betah, bahkan lebih betah dari pada di rumahku sendiri. Di rumah kadang suasananya sepi. Di sini rame. Banyak santri dan santriah yang beraktifitas.

***

Saat ini, sebenarnya aku ingin bertanya pada Abi dan Umi. Kang Zainu dimana? Aku tidak melihatnya setelah pulang dari kebun tadi. Tapi aku malu menanyakannya. Takut disangka.. Semacam.. Ya..

***

Waktu sudah menunjukan pukul setengah tiga. Saatnya pulang.

“Abi.. Umi.. Kami pulang dulu ya!” ujar Keisuke pada Abi dan Umi.

“Iya,” kata Abi, “Jangan lupa nanti di rumah ngaji yang rajin biar jadi anak yang soleh!” tambah Abi lagi.

“Amin!” ucapku ikut mengamini sambil kemudian mengusap kepala Keisuke.

“Abi! A Jendral masih di madrasah ya?” tanya Keisuke.

“Iya,” kata Abi.

“Aku kesana dulu ya! Mau pamitan,” kata Keisuke yang kemudian beranjak.

Tidak tahu kenapa tiba-tiba, rasanya aku ingin ikut dengan Keisuke. Kakiku seolah terusik untuk melangkah kemudian berjalan mengikutinya. Tapi untuk apa? Untuk bertemu dengan Kang Zainu? Ah sudahlah. Baiknya aku tetap di sini. Lagi pula di sini ada Abi dan Umi. Biar aku mengobrol dengan mereka.

Dari Abi dan Umi aku mendapatkan informasi. Ternyata beberapa hari ini Kang Zainu sibuk membimbing pasaran. Semacam pengajian kilat yang di dalamnya diisi dengan materi-materi kajian kitab kuning karya ulama-ulama terdahulu. Pesertanya diikuti oleh para santri serta remaja-remaja kampung yang ada di sekitaran pesantren.

Dan aku baru tahu. Ternyata Keisuke pun datang ke sini untuk mengikuti pengajiannya Kang Zainu. Sungguh, aku tidak tahu. Jika memang benar begitu, harusnya Keisuke bilang. Tentu kami pun akan mengizinkan. Bukan malah pergi dari rumah dengan alasan jalan-jalan sore dan kemudian hilang. Membuat khawatir keluarga saja.

***

Langit nampak mulai cerah. Hujan nampak sudah tiada. Hanya bekasnya saja yang tersisa.

Sekarang, aku sedang berada di dalam mobil. Aku duduk di kursi belakang dengan Teh Ani. Sementara Keisuke duduk di kursi depan mendampingi Kang Yadi. Kami semua mengobrol. Aku banyak membuka pembicaraan. Menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan Abi dan Umi. Juga kang Zainu. Pokoknya banyaklah.

Lain waktu, aku ingin kembali bisa bertemu dengan Abi dan Umi. Dua orang yang telah membuatku kagum dengan kesederhanaannya. Dua orang yang sangat baik sambutannya. Dua orang sangat ramah dan telah membuatku nyaman ketika berada di samping keduanya.

Tentang Kang Zainu, dia tidak seperti yang kubanyangkan. Meski awalnya terkesan menjengkelkan, namun ternyata apa yang ia lakukan itu sepertinya hanya sebuah retorika, bagaimana ia membuat perkenalanku dengannya menjadi berkesan. Dengan cara yang unik. Sehingga aku banyak menduga-duga, menyangka dan lebih mendapatkan sesuatu yang mudah diingat.
KLIK LANJUT KE PART 9

0 Response to "Ayumi dan Zainu (8): Pengalaman Seru"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel