Kamis, 12 April 2018

Ayumi dan Zainu (9): Aku Ingin Menikah

Ayumi dan Zainu (9): Aku Ingin Menikah

Saat ini malam hari. Seperti biasa, aku mendengarkan shalawat yang aku putar dari hapeku. Shalawat yang membangkitkan kecitaanku pada Baginda Rasul. Shalawat yang dipenuhi dengan doa-doa kenabian. Aku suka mendengarkan, pun demikian melantunkannya.

Aku sangat menyukai shalawat. Dan aku suka orang-orang yang membacakan sholawat. Karena Tuhan pun bershalawat. Shalawat dari Tuhan adalah rahmat, shalawat dari malaikat adalah permohonan maghfirah dan shalawat dari manusia adalah doa. Maka mari berdoa, Allohumma sholli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad. Semoaga Allah senantiasa menambah rahmat dan kehormatan kepada baginda Nabi pilihan, Nabi Muhammad SAW.

Air mataku berlinang saat ini. Bukan linangan kesedihan. Ini adalah linangan kerinduan. Rindu akan Nabi Pilihan. Semoga, suatu saat nanti aku akan dikumpulkan bersamannya. Dilingkup dengan syafaatnya. Diberikan senyum manisnya. Mmmhhh! Iiih! Kangen. Aku ingin menikah.

Ya, aku ingin menikah! Entahlah, setiap aku mengingat baginda Rasul, ada satu bagian dari hati kecilku yang mendorong agar aku segera menikah. Mungkin ini hanyalah efek dari kegadisanku saja. Setiap gadis dewasa pastinya mulai berpikir untuk menikah. Tentunya dengan lelaki yang baik. Lelaki yang nantinya bisa menjadi imam dan membimbing istrinya untuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Bukan harta semata. Bukan tampang semata. Melainkan juga dari sisi-sisi dimana ia mampu memberikan ketentraman, keilmuan, keturunan, ketaatan serta kesalehan.

Tidak salah jika aku mengidolakan Nabi Pilihan. Karena semua kebaikan lelaki ada padanya. Dan mungkin, hal itu pula yang membangkitkan hasratku untuk menikah. Hasrat yang muncul saat aku sedang mengingatnya. Ya Rasulallah.

Dialah kesempurnaan makna dan rupa
Tiada jiwa yang ingkar kecuali dusta
Dipilih oleh Sang Raja Yang Maha Perkasa
Tiada kolega dalam setiap kelezatannya


Rasulullah adalah manusia yang memiliki kesempurnaan jiwa dan raga. Akhlaknya begitu terpuji. Ia menyemaikan cinta dalam setiap tingkahnya. Ia memberikan ketenangan, ketentraman, dan kenyamanan di manapun adanya. Di masa lampau, di masa kini dan di masa yang akan datang, simpul cintanya akan terus mengikat kuat. Akan terus ada dan terus bersemi.

Dan semoga, aku termasuk menjadi bagian dari orang-orang yang mendapatkan cintanya, juga cinta dari orang-orang yang mencintainya.

Kelak, suamiku tidak mesti harus seperti baginda Rasul. Karena kurasa itu tidak mungkin. Tidak ada orang yang mampu menyamai ketampanan serta kebaikan Baginda Rasul. Tapi setidaknya, aku ingin memiliki suami yang mencintai Rasul. Suami yang berusaha meneladani Rasul. Suami yang berusaha untuk selalu taat seperti apa yang dicontohkan Rasul. Ya, menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.

Dan kalau bisa, aku ingin punya suami yang romantis. Tidak perlu formal dan tidak perlu kaku. Pokoknya yang penting halal. Suami yang selalu ngejailin aku setiap hari. Suami yang selalu pandai mencubit hidungku setiap hari. Suami yang selalu bikin kejutan-kejutan unik. Tidak perlu selalu mewah dan tidak perlu berlebih-lebihan. Sederhana saja, yang penting seru.

Kulihat selembar kertas di atas meja. Dari Kang Zainu. Tadi, sebelum naik ke dalam mobil saat hendak pulang, Keisuke sempat memberikannya padaku. Katanya surat titipan dari Kang Zainu.

Isinya hanya gambar wanita berkerudung yang di sisinya ada untaian kata-kata singkat. Gambarnya jelek. Hanya diukir dengan pulpen alakadarnya. Entah apa maksud dari gambar tersebut, aku tidak tahu. Yang jelas, di dalamnya ada perempuan berkerudung bertuliskan namaku. Perempuan itu sedang memegang pedang di tangan kirinya. Dan di tangan kanannya terdapat tali yang terhubung pada sesuatu yang entah makhluk apa. Mungkin kambing. Jumlahnya ada dua. Yang satu bertuliskan “WIBOWO” dan yang satunya lagi bertuliskan “ANGGUN”.

Di samping kiri gambar, terdapat tulisan-tulisan kecil. Sepertinya itu adalah penggalan puisi yang sempat dibacakan oleh Kang Zainu saat kita sedang berada di kebun tadi.

***

Dalam renungan, hatiku sering kali menjadi melankolis. Hidupku haruslah berharga. Dan aku adalah wanita. Entah kenapa aku selalu berpikir bahwa arti seorang wanita adalah ketika ia sudah berumah tangga. Ketika ia mampu melayani sosok yang didamba. Tentunya sosok suami tercinta.

Aku ingin menikah. Aku ingin mengabdi. Aku ingin seperti Siti Aisyah yang totalitasnya begitu berasa. Betapa Siti Aisyah melayani Rasulullah dengan penuh asmara. Ah! Ya Allah, inilah doa seorang perempuan. Engkau Maha Mendengar. Engkau Maha Melihat. Aku pasrahkan hidup serta matiku pada-Mu. Begitu pun jodohku. Ikhtiarku, Engkaulah Yang Maha Tahu.

***

Saat ini pagi hari. Aku sedang duduk-duduk di teras rumah yang menghadap ke arah taman. Ada Kang Yadi yang sedang asik mencuci mobil. Ia ditemani oleh Keisuke, Adnan dan Musa. Adnan dan Musa itu anaknya tante Lisa. Salah satu tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan rumah kami. Sementara aku, aku saat ini sedang khusyu membaca buku Front Pembela Cinta. Sebuah buku yang memang belum selesai aku baca.

Pada dasarnya, aku memang suka membaca buku. Buku-buku aku baca kebanyakan adalah novel. Aku suka membaca novel. Selain itu, aku pun biasamembaca buku-buku keagamaan. Termasuk kitab-kitab yang di dalamnya membahas seputar tazkiyat an-nufus. Yakni ajaran tasawwuf tentang pembersihan hati.

Dari sebagian ulama tasawwuf yang menjadi pegangan umat islam adalah tasawsuf Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali asy-Syafi’i. Atau mungkin lebih populer dengan sebutan Imam Ghazali. Seorang ulama kenamaan yang sampai saat ini ajaran tasawwufnya banyak diikuti. Diantara kitabnya yang biasa aku baca adalah kitab Ihya Ulumiddin dan Kimiau Sa’adah.

Selain kitab-kitab tasawwuf, buku-buku lain yang biasa aku baca adalah buku-buku yang menunjang materi perkuliahanku. Namun novel memang buku bacaan yang menjadi favoritku.

Sebagaimana saat ini, aku membaca buku Front Pembela Cinta, sebuah buku yang judul dan nama pengarangnya masih asing di telingaku. Biasanya, aku membeli buku setelah aku baca sinopsisnya dari internet. Atau dapat rekomendasi dari teman yang telah terlebih dahulu membacanya.

Buku Front Pembela Cinta memang tidak sengaja aku temukan di pameran buku. Dan sementara ini aku merasa tidak menyesal membacanya. Aku suka. Buku ini menyajikan banyak hiburan. Ada pelajaran yang bisa aku ambil dari kisah-kisah yang disuguhkan.

Di dalamnya mengisahkan tentang sosok lelaki bernama Jaelani Muhaimin. Yang oleh Nabila biasa dipanggil dengan sebutan Jae Min. Nabila sendiri adalah seorang wanita cantik yang disukai oleh Jaelani Muhaimin dalam cerita tersebut.

Dalam novel itu dikisahkan bahwa Jaelani Muhaimin merupakan sosok pria urakan. Kerjaannya hanya nongkrong bersama teman-teman sejawatnya. Ia berprofesi sebagai pengatur lalu lintas di area proyekan jalan. Lebih tepatnya berprofesi sebagai tukang kencleng dan meminta uang-uang receh saat sedang mengatur buka tutup jalan.

Sedangkan Nabila merupakan mahasiswi kedokteran. Ia merupakan wanita cantik yang berasal dari keluarga kaya.

***

“Teh, tahu gak?” tanya Keisuke padaku.

“Apa?” aku balik nanya.

“Akei pengen ke Jepang,” ujarnya.

“Ya ke Jepang aja. Apa susahnya,” jawabku.

“Ya justru susah, lah..”

“Apa susahnya? Kan biasanya juga sering diajak sama Bunda.”

“Justru Akei gak pengen bareng Bunda.”

“Terus?” kataku singkat.

“Pengen sendiri.”

“Yaudah berangkat aja sana. Paling juga nanti diculik sama siluman gagang pintu.”

“Ih da, Teteh mah.”

“Emang mau apa ke Jepang Sendiri?”

“Akei mau berpetualang. Kalau sama Bunda pasti gak akan bebas. Harus ini, lah, harus itu, lah. Ribet.”

“Emang berpetualang ke mana?”

“Ke Konoha.”

“Konoha itu di mana? Di dekat rumah Sensei?”

“Bukan.”

“Tapi masih di Kyoto kan?”

“Bukan.”

“Terus?”

“Di Jepang.”

“Yaelah Akei Chan. Di Jepang di sebelah mana, sih? Perasaan selama Teteh tinggal di Jepang dulu, belum pernah denger tempat yang namanya Konoha.”

“Ah, pokoknya ada. Orang-orang sana pasti tahu.”

Aku tidak pernah mengerti cara berpikirnya Keisuke. Ia selalu berpikir tentang sesuatu yang sering membuatku mengerutkan dahi. Aku tidak faham. Entah apa yang ia pikirkan. Entah kenapa kita selalu memiliki pemikiran yang berbeda.

Punya adik laki-laki itu memang ribet. Bukan aku tidak mensyukuri nikmat yang luar biasa ini. Tapi memang begitu adanya. Mungkin itu bagian dari seni kehidupan. Keisuke cenderung nakal, wataknya itu selalu saja ingin mendominasi. Ia memiliki tipikal untuk terus maju. Tak pernah berpikir tentang resiko dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Jika sudah ada kemauan, ia selalu berusaha untuk mendapatkannya. Kalau pun dilarang, ujung-ujungnya malah menangis. Maklum anak usia kecil.

Rasanya beda sekali denganku. Sedari kecil, rasanya aku cenderung feminim. Mau melakukan sesuatu selalu membutuhkan pertimbangan yang lama. Dan aku orang yang penakut.

“Teh, pinjam hape,” kata Keisuke kemudian.

“Mau apa?” tanyaku.

“Nelpon..” jawabnya.

“Jangan ah, nanti pulsanya habis.”

“Akei mau pakai aplikasi chat nelponnya.”

“Nanti malah kuotanya yang habis,”

“Nanti bisa beli lagi kan?” kata Keisuke.

Keisuke memang selalu sulit untuk dilarang. Ia selalu saja suka akal-akalan. Jika sudah ada maunya, ia suka bawel.

“Mau nelpon siapa?” tanyaku.

“Aa Jendral,” jawabnya.

Aku berpikir sejenak. Seperti ada sesuatu yang berputar dalam memoriku.

“Mau bicara apa dengan Kang Zainu?” tanyaku.

“Mau nanyain kambing, sudah dikasih makan atau belum,” jawabnya.

“Gimana kalau Teteh aja yang nelpon?” tawarku.

“Ya sudah, sok,” katanya.

Keisuke kemudian berlalu begitu saja. Ia menghampiri Adnan dan Musa untuk ikut nimbrung bermain air. Simpel. Anak kecil.
KLIK LANJUT KE PART 10
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
 

Masukan email Anda di bawah ini