Minggu, 05 Agustus 2018

Bertambah Usia, Harus Istiqomah dan Berani Mengambil Keputusan

Barusan nonton youtube, ada orang punya penghasilan besar dari menggarap dunia online hingga mampu membeli rumah.

Aku kembali ingat, kemarin-kemarin aku sudah punya penghasilan stabil 1,5 juta per bulan dari menggarap situs online. Namun, anehnya aku tinggalkan bisnis tersebut dengan alasan kesibukan ini dan itu. Dan saat ini aku sudah tidak produksi konten lagi. Sampai akhirnya penghasilan yang sudah stabil di 1,5 juta itu pun menurun. Menyusut ke 1 juta, hingga kini terakhir payment cuma kisaran 500 ribuan.

Kini aku mengerutu pas sudah melihat orang lain melesat, kok aku tidak istiqomah?!Kenapa semua yang aku lakukan serba nanggung dan tidak konsisten. Pedahal, secara kemampuan, aku yakin aku mampu bila serius mengeksekusi berbagai potensi yang dimiliki.

Misalnya, aku punya kemampuan menulis fiksi, yang kata orang, tulisanku cukup bagus dan ceritanya bisa diterima oleh pasar. Beberapa orang bahkan pernah membandingkan tulisan-tulisanku, baik novel maupun cerpen dengan tulisan karangan penulis-penulis lain yang sudah meluncurkan buku. Sebagian bahkan mengatakan bahwa novelku lebih bagus dari beberapa novel yang pernah mereka baca. Bahkan beberapa testimoni muncul dari para penulis juga.

Anehnya aku tidak juga mengeksplor kemampuan menulis itu. Bahkan beberapa tulisan fiksi yang telah aku susun justru tidak sampai aku terbitkan. Pedahal, pernah ada beberapa penerbit indie yang siap bekerjasama untuk itu. Dan ini terasa nanggung jika aku sadari saat ini.

Selain dalam hal menulis, aku punya kemampuan menggambar. Meski masih pas-pasan, tapi aku punya keyakinan untuk mampu lebih dalam. Lagi-lagi, dunia seni ini hanya menjadi kenikmatan sesaat. Hanya sebagai pemuas yang lewat begitu saja. Tidak sampai aku pragmatisir. Pedahal, ini adalah kemampuan unik yang tidak banyak dimiliki orang. Jika aku mampu mengemas, ini pun bisa jadi alternatif untuk aku tekuni.

Selain melukis, aku punya kemampuan membaca kitab kuning. Ini, memang karena aku belajar di pondok pesantren. Dan aku memang dididik oleh kedua orang tua untuk punya kemampuan ini. Waktu mondok, aku tamat hafalan jurumiyah, yaqulu, imriti, dan alfiyah. Beberapa perlombaan kitab kuning tingkatan pesantren, kabupaten dan provinsi pernah aku ikuti. Beberapa diantaranya berhasil menjadi juara. Namun aku tidak menjadikan kemampuan ini sebagai personal branding.

Dan yang juga jadi pertanyaan, saat ini aku sering ikut nimbrung di komunitas. Aku pernah masuk ini dan itu. Aku sering terlibat ini dan itu. Yang tiada lain, aku banyak membenturkan diri untuk aktif dalam beberapa organisasi. Aku tidak pernah mencari keuntungan dari kesenanganku dalam berkomunitas. Justru, secara pribadi aku lebih banyak mengeluarkan pikiran, tenaga, dan materi untuk ini. Pedahal, beberapa orang menjadikan komunitas sebagai jenjang karir politik dan mencari keberpengaruhan di masyarakat. Dan lagi-lagi, aku tidak punya pandangan panjang untuk apa aku berkomunitas selain hanya bermodal suka. Pedahal, seharusnya aku punya arah yang jelas, misalnya nyaleg di lima tahun ke depan.

Sekarang, aku kuliah di jenjang pascasarjana. Dan lagi-lagi, aku bingung untuk apa aku kuliah tinggi-tinggi? Memang ilmu dan pengalaman penting. Tapi motivasi akhir dari perjalanan ini pun penting untuk ditentukan. Dan aku bingung.

Aku sadari, aku selalu mengambil jalan nanggung. Tidak pernah fokus dalam satu bidang yang ditekuni.

Dan, ini tanggal 5 Agustus 2018. Di hari ini, katanya aku berulang tahun ke 27. Hari ini, sebagaimana orang dewasa lainnya yang berulang tahun, aku pun harus bermuhasabah. Hidup di dunia ini terbatas. Bila aku tidak pandai membuat keputusan saat ini, maka aku akan merugi di kemudian hari.

#SelfMotivation
#Motivasi #AngRifkiyal
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
 

Masukan email Anda di bawah ini