Cerita: Monster Jembatan Ciminyak Cililin

Admin
Namaku Jaelani. Bulu hidungku gondrong, tapi sering aku cukur jadi tidak kelihatan gondrongnya. Aku suka makan nasi. Hal ini biasa aku lakukan setiap hari. Kalau aku tidak makan sehari saja, biasanya aku suka lapar.

Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju Rancapanggung Cililin, naik Yamaha Byson yang tadi pagi sudah aku cuci. Aku mau berangkat menemui Nabila. Pacarku yang baru seminggu jadian. 

Meski kita sudah jadian, tapi aku belum pernah bertemu dengan Nabila sebelumnya. Aku mengenal Nabila hanya lewat facebook, kemudian banyak berinteraksi di sana, dan akhirnya aku baper.

Aku meminta Nabila untuk jadi pacarku. Eh, aku diterima.

“Ajig!” kataku, “Buruan bangsat!” kataku lagi pada seorang pengendara motor matic yang ada di depanku. Aku emosi.

Orang itu menoleh padaku. Dan aku menatapnya tajam sembari bertingkah seolah ingin berkelahi. Namun untungnya dia hanya sekedar menatapku saja, dan berlalu begitu saja tanpa menghiraukanku.

Saat itu, jalan Rancapanggung Cililin memang sedang macet. Ada perbaikan jalan. Aku menitipkan motorku di warung yang ada di pinggir jalan. Aku memilih untuk berjalan kaki. Aku tidak ingin terlambat untuk menemui Nabila. Lagi pula dari Rancapanggung menuju rumah makan Ciminyak jaraknya cukup dekat.

Aku berjalan, meski agak berlari. Semacam berjalan rusuh. Aku berusaha memangkas waktu agar lebih cepat sampai. Namun tiba-tiba aku dikagetkan oleh sesuatu. Aku melihat langit mendadak mendung. Nampak hitam dan pucat.

Sungguh tidak biasa. Aku merasa heran, kenapa langit tiba-tiba menjadi gelap? Membuatku merasa ngeri. Nampak ada sebuah lubang yang tiba-tiba muncul di langit. Terlihat menjorok ke dalam. Dan dari dalam lubang itu bermunculan petir-petir yang saling sambar. Berkilauan seperti blitz kamera yang sedang memotret.

Aku bingung. Dan semua orang yang ada di sekitarku pun terlihat bingung. Aku segera berlari untuk menemui Nabila. Hingga akhirnya, aku sampai di jembatan Ciminyak.

Di sana, suasana tidak nyaman seperti biasa. Orang-orang berkerumun di luar ruangan melihat langit hitam. Dan aku bingung mencari Nabila. Suasana tidak tenang.

“Halo! Bil? Dimana?” kataku lewat sambungan telepon.

“Aku di sini. Di dekat angkot kuning yang ada di ujung jembatan,” katanya.

“Tunggu! Jangan kemana-mana!" kataku, "Aku segera kesana," lanjutku.

Lantas aku berjalan. Mataku memantau ke setiap sudut tempat. Fokus pada orang-orang yang ada di dekat jembatan. Aku melihat angkot kuning dan, jleb! Mataku beradu pandang dengan sosok gadis cantik. Matanya bersinar. Senyumnya landai.

Ya, itu adalah Nabila. Sosok perempuan yang facebooknya berulang kali aku klik.

“Nabila ya?” kataku menyapa. Jantungku berdebar tak karuan. Aku grogi.

“Iya,” jawabnya. “Ini Aa Jael ya?” tanyanya.

“Iya,” jawabku.

Lantas kita saling mengeluarkan senyum. Aku dan Nabila nampak asing di dunia nyata. Canggung. Pedahal saat berkomunikasi di facebook rasanya kita sudah begitu dekat, bahkan kedekatannya sudah tidak bisa diukur dengan penggaris.

“Bila!” seruku.

“Apa?” katanya lembut.

“Maaf ya! Tadi Aa telat datangnya,” kataku.

“Iya ih! Kenapa kok bisa telat datangnya?” katanya

“Mungkin Aa hamil. Jadi telat datangnya,” jawabku.

“Ih?” Bila nampak bingung. Mungkin ia tidak mengerti candaanku.

Lantas kita melanjutkan obrolan lain. Ya, obrolan ringan, membahas status facebook dan beberapa hal berkaitan dengan pribadi masing-masing. Maklum, ini adalah pertemuan pertama di dunia nyata. Kita perlu penjajakan ulang, meski pun sebenarnya apa yang kita bahas pernah kita ulas saat berkomunikasi di facebook.

Di tengah perbincanganku dengan Nabila, tiba-tiba dari arah langit terdengar suara gemuruh dahsyat serta suara raungan binatang buas. Aku dan Nabila kaget. Kita kembali tersadar dengan situasi yang ada.

Nabila tiba-tiba memeluk lenganku. Ia nampak ketakutan. Aku berusaha menenangkan Nabila. Walau sebenarnya aku merasa menang banyak dengan situasi itu.

Dari lubang hitam yang ada di langit, tiba-tiba keluar sesosok monster. Edas, aslina? Aku kaget. Kejadian ini seperti yang ada di film-film Ultraman.

Monster itu meluncur begitu cepat dari langit, langsung menghujam ke aliran sungai Ciminyak. Sejajar dengan posisiku dan Nabila yang berdiri di Jembatan Ciminyak.

Sosok monster itu begitu menyeramkan. Matanya merah, kepalanya bedegul, kulitnya bersisik seperti ikan bandeng, hidungnya bolong seperti hidung babi.

Cerita: Monster Jembatan Ciminyak Cililin

Sontak semua orang langsung menjerit dan lari berhamburan. Banyak kendaraan yang ditinggal oleh pemiliknya. Banyak anak dan istri yang mungkin juga ikut ketinggalan. Aku dan Nabila juga lari kepanikan.

Namun akibat suasana yang kacau, Nabila tersenggol seseorang hingga ia jatuh ke sungai yang ada di bawah jembatan. Aku panik melihat Nabila jatuh. Aku reflek langsung terjun ke sungai untuk menyelamatkan Nabila.

Air sungai ciminyak saat itu cukup tinggi. Untungnya aku bisa berenang. Segera kutangkap Nabila yang terengah-engah, kubawa ia ke darat. Ia pingsan walaupun masih tetap terlihat cantik. Aku memberinya nafas buatan biar ia segera sadar dan kembali menjadi wanita.

Tak berapa lama, Nabila langsung sadar walau sambil batuk-batuk.

“Kamu baik-baik saja?” tanyaku.

Ia menganggukan kepala. Tanda bahwa ia dalam keadaan baik.

“Bila, maaf. Barusan aku memberimu nafas buatan. Kondisinya darurat,” terangku.

Muka Nabila memerah mendengar ucapanku. Mungkin ia sudah kembali menjadi perempuan.
***

Raungan suara monster terdengar menggema, tingkahnya brutal mencerminkan sosok monster yang liar. Sesekali monster itu merusak rumah-rumah yang ada di sekitaran sungai. Ia berjalan menyusuri sungai menuju ke arah di mana kami berada.

Aku dan Nabila tidak bisa beranjak pergi. Kaki Nabila terkilir. Dan kita sudah terlalu lemah untuk menyelamatkan diri akibat terjatuh dan tenggelam tadi. Sementara semua orang sudah tiada. Mereka menyelamatkan diri masing-masing.

Nabila nangis. Ia ketakutan. Terlihat air matanya yang bening. Indah sekali, dia memang benar-benar cantik. Namun aku merasa banci bila membiarkan seorang wanita menangis, apalagi sampai celaka. Bagaimana pun aku harus melindunginya. 

Tapi bagaimana caranya? Aku bingung. Monster itu ukurannya besar, seukuran Gunung Aseupan.

Lantas aku bermunajat, memohon keselamatan kepada Allah. Memohon perlindungan serta jalan keluar atas semua permasalahan ini.

Berselang beberapa saat, tiba-tiba ada sebuah tas jatuh dari atas jembatan. Getaran yang timbul dari langkah kaki sang monster memang begitu kuat. Tas yang jatuh itu tepat di hadapanku.

Dari dalam tas, terlihat ada wajit berserakan, makanan khas daerah Cililin itu berceceran. Dan Entah kenapa, aku langsung ingin mengambilnya. Apalagi setelah melihat bungkus kemasannya yang bertuliskan wajit asli Cililin.

Kuambil satu, kubuka bungkusnya yang terbuat dari daun jagung kering. Benar saja, itu adalah wajit khas yang jarang ada di daerah lain. Wajit legend yang menjadi oleh-oleh khas Cililin. Tekstur luarnya sedikit kering namun di dalamnya lembek dan lembut. Aku langsung menyantapnya. Menikmati rasa manisnya.

Beberapa detik kemudian aku merasakan hal aneh setelah makan wajit itu. Entah kenapa mataku langsung silau, kepalaku terasa dingin, tubuhku terasa ringan. Aku seperti melayang. Ada apa ini? Apa yang terjadi padaku?

Pandangan mataku semua menjadi putih. Aku tidak bisa melihat apapun kecuali warna putih. Bahkan telingaku jadi tidak bisa mendengar apa-apa. Aku seperti sedang melayang dan meluncur ke suatu alam yang berbeda. Alam yang bukan lagi di alam bumi.

Jleb! Tiba-tiba saja aku berada di padang pasir yang gurun. Seperti berada di dataran Gurun Gobi Afrika. Sepanjang mata memandang adalah pasir. Tidak ada sesuatu apapun kecuali sengatan matahari dan hembusan angin yang membawa debu-debu pasir gersang.

Nabila? Dimana Nabila? Aku takut ia dijadikan cemilan monster itu. Ya Tuhan, mengapa aku tiba-tiba ada disini? Di tempat yang asing ini.

"Jang, lagi apa?" kata seseorang yang tiba-tiba terdengar suaranya dari arah belakang.

Aku kaget. Aneh. Kok ada orang yg memanggilku di tempat seperti ini? Segera kubalikan badan dan melihatnya. Ternyata ada seorang kakek-kakek tua memakai dudukui sambil membawa tolombong dan arit.

"Siapa kamu?" kataku dengan nada tegas.

"Hahaha. Aku adalah orang yang tersesat di sini," katanya.

"Koplok siah!" kataku. "Bawa-bawa sia nu mawa aing kadieu!" lanjutku.

"Hahaha. Kamu sedang emosi anak muda. Tenanglah!" katanya.

Sejenak aku menatapnya. Menatap wajahnya. Ia tidak seperti orang jahat.

"Ini di mana?" tanyaku yang mulai menurunkan emosi.

"Ini di alam ereup-ereup. Sebuah alam yang penuh misteri."

"Maksudnya?"

"Ya, ini misteri, Jang. Aku pun tak mengerti. Sudah lama aku ingin keluar dari sini. Namun tak pernah bisa."

"Maksud kamu, kita akan terjebak di sini selamanya?" tanyaku bingung.

"Mungkin."

Mendengar ucapannya, aku langsung lemas. Hidup memang asik. Namun hidup dalam dunia yang sepi seperti ini apa bedanya dengan mati? Aku bingung dengan semua yang terjadi.

"Ayo ikut denganku!" kata kakek itu.

"Kemana?" kataku.

"Ke tempat berlindung. Sebentar lagi akan ada badai."

"Hah?"

Lantas aku mengikuti kakek itu. Berjalan menyusuri padang pasir yang gurun. Gurun pasir yang luas seperti tiada berujung.

Lima jam lamanya berjalan, aku dan kakek tua itu sampai di sebuah gundukan batu besar yang ada lubangnya. Katanya, itu adalah batu yang ia lubangi selama satu tahun. Khusus ia gunakan untuk berlindung bila akan terjadi badai.

Aku nanya, "Gimana cara melubanginya? Ini kan keras?".


Ia jawab, "Hahaha, saat pertama kesini, aku fokus mematangkan ilmu tenaga dalam yang telah aku gali selama menjadi pendekar Gunung Halu."

Kemudian ia menunjukan caranya padaku. Dan, Jebrett! Batunya langsung bolong.

"Edas!" kataku kagum. "Iya gitu? Kamu Pendekar Gunung Halu?" tanyaku penuh heran.

"Hahaha, itu dulu," jawabnya.

Aku langsung menyungkur. Memberikan rasa hormat padanya. Betapa tidak, jika benar ia adalah pendekar Gunung Halu, itu akan sangat luar biasa. Pendekar Gunung Halu adalah pahlawan legenda dari Gunung Halu. Ia adalah pembela kenenaran dan penumpas kejahatan yang banyak diceritakan. Ia terkenal dengan pencak silat dan kesaktiannya yang luar biasa.

“Hahaha, kenapa kau berlutut seperti itu anak muda?”

“Pangersa Mama Pendekar Gunung Halu, hapunten pisan tadi saya bersikap kurang ajar,”

“Hohoho. Aing tea,” katanya.

Kemudian kita ngobrol-ngobrol. Atau curhat tentang berbagai hal di dalam batu yang bolong itu. Tentunya sambil berlindung dari badai pasir yang ricuh. Aku mendapat informasi darinya, bahwa satu tahun di alam ereup-ereup sama dengan satu detik di dunia nyata. Itu artinya aku masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Nabila dari monster jahat di alam bumi.

Aku menceritakan kejadian yang kualami di dunia nyata pada sang mama Pendekar Gunung Halu. Ia manggut-manggut mendengar ceritaku. Aku lantas memohon-mohon agar bisa kembali ke dunia nyata. Namun ia bilang hal itu tidak bisa. Kecuali aku mampu mengalahkan siluman huntu rangoas yang masih menguasai alam ereup-ereup. Selain itu aku harus mampu merebut wajit cililin yang saat ini berada dalam penguasaan siluman huntu rangoas agar mampu kembali ke dunia nyata.

“Apakah mama pernah mencoba?” tanyaku.

“Iya, namun aku selalu gagal. Siluman itu terlalu kuat.”

Aku langsung lemas mendengar ucapannya. Serasa langit, awan dan hujan runtuh mendadak lantas menimpa ubun-ubunku. Aku putus asa. Mungkin memang sudah takdirku untuk tinggal di alam ereup-ereup selamanya. Menyedihkan.

“Tapi...” kata Mama pendekar gunung halu dengan nada ragu.

“Tapi apa?” tanyaku penasaran.

“Ada satu cara agar bisa mengalahkan siluman huntu rangoas.”

“Apa?” tanyaku penuh nafsu sembari memegang kedua tangannya.

“Ada satu jurus yang aku punya. Jurus ‘tukang ngarit mabuk’. Jurus ini kurasa mampu mengalahkannya. Sayangnya aku sudah terlalu tua untuk mengeluarkan jurus itu. Jika aku keluarkan, aku bisa mati dan malah sia-sia,” ujarnya dengan ekspresi kecewa.

Ahhhh.. aku kecewa lagi. Harapan  yang kukira baru muncul sedikit sudah langsung ditebas lagi. Mungkin memang ini takdirnya, aku harus menangis. Pedahal aku belum sempat menikah selama masih di dunia.

“Hahahaha,” kakek tua itu tertawa tiba-tiba. Membuatku kaget sekaligus heran.

“Kurasa ilmuku lebih baik aku wariskan padamu anak muda!” katanya lagi dengan nada optimis.

Setelah itu, aku diberi sebuah tolombong dan arit olehnya. Aku diajari berbagai jurus dan ilmu. Hari demi hari aku lalui untuk berlatih agar bisa menguasai berbagai jurus. Hingga satu tahun kemudian akhirnya aku berhasil mengusai jurus ‘tukang ngarit mabuk’.

Setelahnya, aku pun mampu menguasai semua jurus yang diajarkan oleh Mama Pendekar Gunung Halu, kemudian aku langsung diantar untuk menemui siluman huntu rangoas. Menempuh perjalanan yang jauh. Mungkin sekitar tiga bulan kami menyusuri padang pasir yang luas untuk akhirnya sampai di tempat palinggihan siluman huntu rangoas yang berada di suatu lembah penuh dengan pohon kaktus.

“Mau apa kalian kemari? Bhuaahahahahaha,” kata siluman huntu rangoas menyambut kedatangan kami.

Aku kaget dengan semua yang kualami ini. Aku begitu ngarumas. Saat ini, di hadapanku ada sesosok raksasa besar dengan muka menyeramkan. Lebih dari itu, ia memiliki gigi yang gondrong. Usut punya usut, giginya itu beracun. Ia sering menjadikan giginya sebagai senjata andalan.

“Aku ingin melawanmu, hai siluman huntu rangoas!” ujarku pura-pura berani.

“Bhuahahahahahha.. Coba saja kalau berani!”

Lantas aku menghampirinya dan menebas gigi gondrongnya menggunakan arit. Tebasanku membuat siluman huntu rangoas itu mati seketika.

"Adih! Kok gitu? Apa-apaan ini? Masa langsung kalah? Tidak sesulit yang diceritakan. Tidak seru. Tidak seheroik dari penuturan awal," kataku mengerutu pada Kakek Pendekar Gunung Halu.

Kakek pendekar Gunung Halu hanya cengengesan.

Aku lantas mengambil wajit dari genggaman siluman huntu rangoas menggunakan tolombong. Kemudian aku serahkan kepada mama Pendekar Gunung Halu. Kita langsung botram di tempat. Menikmati wajit Cililin yang terkenal manis dan legit.

Dan, jleb! Aku langsung berada di bawah jembatan Ciminyak kembali. Kulihat Nabila langsung memeluk tanganku. Ia seperti sedang ketakutan.

Dan nampak pula monster masih menuju ke arah dimana aku dan Nabila berada. Suaranya meraung-raung seperti sudah tidak sabar untuk menyantap kami. Bahkan tidak tahu kenapa, monster itu mencoba berlari ke arah kami.

Namun baru saja menginjakan kaki beberapa langkah, monster bengis itu tiseureuleu ditengah aliran sungai jembatan Ciminyak. Hahahahaha, aku dan Nabila tertawa melihat kejadian itu. Sungguh gokil sekali, monster yang berwajah mengerikan dengan raungan yang menggemparkan tiba-tiba tikosewad dan tikusruk di sungai.

“Tunggu disini Nabila! Aku akan menghadapinya,” kataku pada Nabila dengan tatapan meyakinkan.

“Aa..” kata Nabila dengan suara lembut. Ia menatapku penuh rasa khawatir.

“Jangan khawatir! Percaya ka Aa. Semua akan baik-baik saja. Ini demi kamu. Pun jika aa meninggal, setidaknya aa meninggal dengan keadaan terhormat. Aa telah memperjuangkan keselamatanmu duhai cinta, oh..” kataku pada Nabila biar terkesan keren.

“Aa! Hiks.. Hiks..” Kata nabila sambil memelukku. Ia menangis dipangkuanku seakan tidak kuasa melepas kepergianku. Romantis.

Aku naik ke atas jembatan. Lantas tegak berdiri sambil menghadap ke arah monster yang nampak mengerikan itu.

Sebenarnya aku tidak benar-benar berani menghadapi monster itu. Monster yang ukurannya sebesar gunung aseupan. Bagaimana pun, aku adalah manusia biasa. Manusia yang hanya memiliki tinggi sekitar 165 cm. Manusia yang tadi pagi hanya sarapan nasi, dua piring.

Sungguh, aku tidak punya daya. Jangankan melumpuhkan monster, melumpuhkan hati perempuan saja aku sering gagal. Kecuali Nabila. Melumpuhkan Nabila adalah kebetulan. Atau mungkin ijabah doa karena aku sering menyebut namanya di sepertiga malam.

Semua orang mesti tahu, bahwa Nabila adalah gadis yang cantik. Mungkin paling cantik sedunia. Atau paling cantik sekelurahan. Atau paling cantik satu RT pun tidak masalah. Yang penting paling cantik.

Nabila punya gigi taring gingsul. Jika senyum, ada manis-manisnya. Membuatku betah kalau sudah memandangi foto-fotonya di facebook.

Nabila nampak khawatir melihatku yang akan bertarung dengan monster itu. Aku tidak boleh mengecewakan Nabila. Aku harus melawan monster itu.

"Arggghhhhhhhh...."

Aku berteriak seketika. Bukan untuk menakut-nakuti sang monster. Tapi untuk mengeluarkan sebuah jurus. Jurus terlarang yang aku pelajari saat di alam ereup-ereup. Namanya jurus padalarang. Jurus yang hampir semua orang pada melarang.

Mendadak, aku merasa ada tenaga yang muncul dalam tubuhku. Aku merasa seperti dipenuhi oleh sengatan listrik.

Aku lantas melayang, meluncur menyerang monster itu dengan sekuat tenaga. Aku pukul-pukul tubuhnya dengan sekeras mungkin. Aku tampar wajahnya dengan tangan-tangan jebrag. Beberapa hizib aku bacakan untuk melumpuhkan monster itu.

Dari mulutku, muncul api. Aku bisa menyemburkan api dengan kecepatan tinggi. Seperti api yang dihembuskan oleh tukang las karbit. Namun ini dengan skala besar dan kekuatan yang berkali-kali lipat. Tidak lama kemudian, muncul ledakan dahsyat seperti ledakan bom atom hirosima yang pernah aku lihat di film dokumenter sejarah kemerdekaan.

Semua berdebu, semua porak poranda akibat kekuatan yang aku keluarkan.

Aku memandang Nabila dengan rasa percaya diri yang tinggi. Aku menghampirinya.

"Itu," kata Nabila.

"Apa?" tanyaku.

"Di belakang.." kata Nabila lagi.

Eit dah.. Monster itu masih ada di belakangku dan belum mati. Monster itu malah melongo padaku. Ia menatapku aneh. Tidak terluka dan tidak mengalami rasa sakit.

Aku mendadak muringis. Sungguh, aku takut melihatnya. Monster itu sangat mengerikan.

Aku brteriak, "Arrggghhhhhhhhhhhhh..."

Mataku kubuka perlahan, tubuhku terasa panas, aku keringatan. Kulihat jam yang menempel di dinding kamarku menunjukan pukul 1 siang.

Dan, ya, aku sedang di kamar.

Sungguh, baru saja aku bermimpi yang aneh. Mimpi bertemu dengan Nabila di jembatan Ciminyak, tersesat di gurun, hingga harus bertarung melawan monster yang hidungnya ronghod. Benar-benar mimpi yang aneh.

Segera kuambil hape yang ada di meja. Kubuka facebook. Dan kulihat profil akun Nabila. Ya, ia masih tetap sama, cantik. Sampai-sampai terbawa mimpi.
**

Siang itu, aku jadi banyak merenung. Mengapa aku bermimpi aneh seperti itu. Tentang wajit dan kekuatan. Tentang Nabila dan monster. Pun tentang Pendekar Gunung Halu.

Akhirnya, selepas shalat dzuhur, aku langsung bergegas berangkat ke Sindangkerta. Menuju daerah Gandok.

Memang, sudah tiga minggu ini aku rutin datang ke Gandok. Setiap hari aku dan teman-temanku nongkrong di jalanan, antara Rancapanggung dan Sindangkerta. Jika ditanya untuk apa? Jawabannya sederhana. Hanya untuk mengatur lalu lintas jalan.

Kebetulan, di sepanjang jalan Rancapanggung dan Sindangkerta sedang dilakukan pengecoran. Aku memanfaatkan situasi itu. Untuk ikut nimbrung melakukan buka tutup jalan. Sesekali ngencleng untuk mendapatkan receh.

"Beng, kenapa telat?" tanya Damar kepadaku ketika aku baru saja tiba.

Namaku sebenarnya Ahmad Jaelani Itu nama pemberian kedua orang tuaku. Tapi anehnya, teman-temanku malah memanggilku dengan sebutan Obeng. Asal muasalnya tidak akan aku ceritakan.

"Ketiduran.." jawabku singkat.

Aku langsung bergabung dengan mereka.

Beberapa waktu kemudian, sebagaimana biasa aku sedang ngencleng sambil buka tutup jalan. Namun, tiba-tiba aku terkejut. Aku melihat ada seorang gadis yang seperti tidak asing bagiku. Berkulit putih, rambutnya terurai. Hidungnya yang mancung dan matanya berjumlah dua.

Aku bisa melihatnya, karena ia tidak mengenakan helm sambil duduk dibonceng di atas motor.

Tidak salah. Itu adalah Nabila. Ya, benar ia. Gadis yang selama ini hanya bisa kulihat sosoknya di facebook. Gadis yang tadi pagi juga hadir dalam mimpiku.

"Nabila, ya?" tanyaku sembari menghampirinya segera. Aku tidak sadar, kenapa aku tiba-tiba menghampirinya, menanyakan namanya.

Nabila terperangah. Dahinya mengkerut. Ia seperti menebak-nebak, siapa aku.

"Eh? Siapa ya?" tanya orang yang sedang membonceng Nabila.

Saat itu Nabila memang sedang dibonceng oleh seorang lelaki. Memakai helm putih. Motornya Ninja dua silinder. Tampilannya oke seperti sosok "boy" yang ada dalam film anak jalanan.

Aku hanya tersenyum. Merasa aneh sendiri. Lantas berlalu. Tapi Nabila melihatku. Ia mungkin bertanya, siapa aku yang bisa tahu namanya. Kurasa jika Nabila teliti, ia pasti akan tahu siapa aku.

Di facebook, aku sering sekali mengomentari status dan foto-foto Nabila. Bahkan hampir tidak terhitung aku sering mengirimnya pesan di facebook, pesan yang hanya diread saja itu. Meski tanpa pernah direspon, atau pun dihiraukan.

Jika Nabila teliti dengan aku facebookku, ia saat ini pasti akan ingat. Yang mengirim pesan itu adalah aku. Ya, aku. Orang yang di facebook sering berfoto dengan celana sobek-sobek. Tidak berbeda jauh seperti celana yang saat ini sedang kupakai.

Rasanya aku menjadi melankolis. Wajah premanku meleleh jika berbicara wanita. Sesangar apa pun preman, ada jika dihadapkan pada cinta, tetap saja melankolis.

Lagi pula, siapa aku? Hanya penggemar Nabila di facebook. Dan kurasa, memang hanya di facebook. Tidak mungkin sampai bisa mengenal Nabila di dunia nyata.

Jika dibanding peliharaan Nabila yang tadi pakai ninja, sepertinya aku bukan apa-apa. Ninja memang sering kali menjadi momok yang menakutkan bagi pengangguran sepertiku. Menikung.
**

Aku pamitan pada yang lain. Aku merasa tidak enak hati. Mumet.

"Kemana, Beng?" tanya Damar.

"I'tikaf, ka masjid.." kataku.

"Leheung.." balasnya.

Aku lantas pergi. Tidak ke masjid, sih. Aku berangkat ke Ciminyak. Entahlah, aku merasa ingin ke Ciminyak. Mungkin gara-gara tadi aku bermimpi datang ke sini.

Ciminyak memang menawarkan destinasi. Jika ada orang yang belum tahu Ciminyak, tentu harus segera tahu. Ciminyak adalah destinasi wisata kuliner ikan bakar. Kuliner sederhana. Ada ikan nila, ikan mas dan ikan mujair. Belum ada ikan paus.
**

Pukul lima sore, aku baru shalat Ashar. Selepas shalat itu, seketika facebook messagerku bunyi. Aku buka. Ada pesan yang masuk.

"Tadi yang di jalan itu kamu ya?" tertulis di inbox.

Kulihat, pesan itu dari Nabila. Betapa jantungku berhenti. Sesaat tapi. Lantas berdetak. Tapi agak cepat. Ini pertama kalinya Nabila berinteraksi denganku. Ia membalas pesanku setelah sekian lama tak pernah sekali pun memperdulikanku.

Aku balas:
" :) " (emoticon senyum)

"Kok, malah emot senyum?" tanyanya.

"Iya. Yang tadi di jalan itu aku," balasku.

"Maaf ya. Tadi aku kaget. Jadi bingung pas kamu nanya," balasnya.

"Tak apa. Maaf tadi aku lancang," tulisku.

"Lancang kenapa? Biasa aja kali a.." katanya.

Anyir! Nyebut "Aa". Sugan teh bakal nyebut "Mang".

" :) " (emoticon senyum)

"Lagi apa?" tanyanya kemudian.

"Lagi makan, di ciminyak.. Hehe," balasku.

"Oh, udah beres ngenclengnya?" tanyanya.

"Belum. Aku pergi duluan. Nyari makan. Yang lain masih ngencleng."

"Ini nomor whatsaapku, 0838213193033 " balasnya.

" Lho? Kok tiba-tiba ngasih nomor?" tanyaku.

"Bukannya dulu kamu sering minta nomor WA ku? Maaf, baru sekarang aku kasih.." katanya.
**

Percakapanku saat itu terhenti. Hapeku mendadak mati. Baterenya habis.
**

Aku menjadi kepikiran. Entah ada angin apa, kenapa Nabila yang dulu tidak pernah membalas pesanku sama sekali tapi sekarang muncul tiba-tiba menghubungiku.

Aku seperti mendapat angin segar. Serasa dibukakan pintu, meski sedikit, untuk sekedar silaturahmiku dengannya. Tapi, ya, hanya silaturahmi.

Setelah melihat Nabila tadi, aku tidak lagi memiliki asa untuk berimajinasi menjadi pasangan Nabila. Kini aku sadar diri. Siapa aku? Siapa Nabila? Kita bagai bumi dan langit. Lagi pula, nampaknya Nabila sudah punya peliharaan. Semacam monyet, atau apalah.

Aku tidak ingin terjatuh dalam pengaharapan cinta yang kosong. Aku tidak ingin pengalamanku dulu terulang. Dulu, waktu masih sekolah di SMA yang ada di Batujajar, aku penah punya pacar. Namanya Ismi. Ia mencampakanku. Dan itu sakit. Aku terus berharap kembali padanya, mengejarnya, mencintainya, tapi ia malah terus pergi, menghindar, dan akhirnya menjalin kasih dengan orang yang lebih mapan dariku. Bagiku itu sakit.

Mungkin ini lebay. Tapi setiap orang punya kisah asmaranya masing-masing. Dan kisah asmarku, ya, begitulah.
___
Bersambung.. 
Untuk kelanjutannya, bisa minta ke penulis (gratis) di Instagram: Ang Rifkiyal
Komentar

Komentar

Cancel

Ayo gaskan komentarmu di sini..!!!