Sejak Kapan Saya Menyukai Gus Dur?

0

Hari ini adalah haul KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur. Sembilan tahun yang lalu, tepatnya 30 Desember 2009, bapak pluralisme itu meninggal dunia. Meninggalkan banyak kenang bagi para pengagumnya. Banyak orang merasa kehilangan dengan sosok cerdas dan jenaka itu.

Saya sendiri termasuk orang yang telat mengenal Gus Dur. Saat Gus Dur meninggal, usia saya masih 18 tahun. Dan di usia tersebut, saya belum mengenal banyak tentang Gus Dur. Saya hanya tahu bahwa beliau adalah mantan Presiden RI yang ke-4. Dulu waktu sidang MPR dimana Gus Dur terpilih jadi presiden, saya pernah nonton. Dan itu pun lupa-lupa ingat.

Waktu kecil, saat SD, saya pernah ditegur oleh ayah saya karena tebak-tebakan yang membawa nama Gus Dur. Dulu ada tebak-tebakan, “Apa bedanya  Chiki (sanck) dengan Gus Dur?” dan jawaban dari tebak-tebakan tersebut agak sedikit rasis, “Kalau Chiki itu renyah, kalau Gus Dur itu renyah renyoh (kebiasaan mendenyutkan bagian atas bibir)”. Bagiku yang saat itu masih kecil, tebak-tebakan tersebut lucu. Namun ayah saya menegur dan melarang untuk melakukan tebak-tebakan itu lagi. Menurutnya tebak-tebakan itu tidak sopan, apalagi Gus Dur merupakan ulama.

Hingga pada tahun 2009, saya mondok di Pondok Pesantren Al-Istiqlaal Cicantu, Cianjur. Baru beberapa hari saya mondok, ada kabar Gus Dur meninggal. Dan saat itu, guru-guru saya di pesantren panik atas berita meninggalnya Gus Dur. Bahkan guru saya yang paling sepuh, Mama Cicantu langsung berangkat ke Jakarta untuk melayat.

Dari sana saya mulai tertarik dengan Gus Dur. Apa hebatnya Gus Dur hingga seorang ulama sepuh dan wara sekelas almarhum Mama Cicantu begitu peduli terhadap Gus Dur? Mama terlihat gusar, beliau nampak sedih dengan meninggalnya Gus Dur. Beberapa hari setelah meninggalnya Gus Dur, bahkan diadakan tahlilan di pesantren. Selain itu, di sela pengajian Mama kadang sering menceritakan kisah Gus Dur.

Dari sana saya mulai banyak menggali informasi seputar Gus Dur. Saya banyak membaca pikiran-pikiran Gus Dur dari tulisan dan beberapa media yang ada. Saya pun banyak membaca berbagai tulisan yang mengulas tentang Gus Dur. Hingga saya pun tertular untuk mencintai Gus Dur.

Dan kecintaan saya pada Gus Dur adalah murni karena saya suka dengan pola pikir, pola gerak, dan berbagai efek dari seorang Gus Dur dalam dakwah islam dan kebangsaan.

Sesekali, ada rasa penyesalan dalam diri saya, kenapa saya baru mengenal Gus Dur sekarang? Kenapa saya tidak mengenal Gus Dur saat beliau masih hidup? Mungkin bila saya mengenal Gus Dur saat masih hidup, itu akan menjadikan saya lebih paripurna dalam mencitai Gus Dur. Sebagaimana cintanya guru-guru saya yang mengenal Gus Dur. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Waktu Gus Dur masih hidup, usia saya masih belum dewasa. Dan saya belum banyak mengerti tentang wawasan keislaman, wawasan kebangsaan, dan berbagai hal yang mana Gus Dur adalah jagonya.

Untuk Gus Dur, lahul fatihah..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here